PC IPNU IPPNU Jombang — PK IPNU IPPNU UNWAHA Selenggarakan (KPL) Kuliah Pasca LAKMUD Bertema Kepemimpinan Strategis Organisasi

20 Jul 2026 M. Darwisy Al Farisi Berita Utama
Jombang — Pimpinan Cabang (PC) IPNU IPPNU Jombang — Pimpinan Komisariat (PK) IPNU IPPNU Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) menyelenggarakan kegiatan Kuliah Pasca LAKMUD (Latihan Kader Muda) pada Senin, 20 Juli 2026, pukul 09.00 WIB hingga selesai, bertempat di Gedung Jokowi Lt3 UNWAHA. Kegiatan ini mengangkat tema besar, Tombak Peka "Kepemimpinan Teknokrat: Membangun Organisasi Adaptif dan Responsif melalui Analisis, Strategi, dan Solusi", dengan materi inti bertajuk "Kepemimpinan Strategis Organisasi".

Kuliah Pasca LAKMUD merupakan forum pendalaman materi yang ditujukan bagi kader yang telah menyelesaikan tahap LAKMUD, dengan tujuan memperkuat kapasitas kepemimpinan mereka dalam konteks pengelolaan organisasi yang lebih kompleks. Peserta hadir dengan ketentuan berpakaian bebas sopan dan mengikuti kegiatan di ruang kelas Gedung Jokowi Lt3 UNWAHA yang telah disiapkan oleh panitia penyelenggara RTL.
Materi disampaikan oleh Rekan Iqbal Maulana A.H, yang menjabat sebagai CO Kaderisasi Pimpinan Cabang (PC) IPNU Kab. Jombang. Dalam pemaparannya, narasumber menempatkan sosok pemimpin strategis sebagai arsitek masa depan organisasi, yang perannya bertumpu pada lima kompetensi utama, yakni kemampuan membangun organisasi yang adaptif, melakukan analisis persoalan secara sistematis, mengelola dan mentransformasikan konflik, mengambil keputusan berbasis pendekatan ilmiah, serta melaksanakan implementasi hingga evaluasi atas solusi yang telah dirumuskan. Kelima kompetensi tersebut disampaikan sebagai satu kesatuan kerangka berpikir yang saling terkait dalam praktik kepemimpinan organisasi sehari-hari.

Pada bagian pertama materi, narasumber menguraikan perbedaan mendasar antara organisasi yang adaptif dan organisasi yang cenderung kaku. Organisasi adaptif digambarkan sebagai organisasi yang mampu merespons perubahan secara proaktif, mendorong eksperimen dan inovasi, bersikap toleran terhadap kegagalan yang bersifat produktif, serta mendistribusikan otoritas ke seluruh lapisan tim. Sebaliknya, organisasi yang kaku cenderung hanya bergerak reaktif ketika krisis telah terjadi, memiliki hierarki ketat yang menghambat aliran informasi, mengalami hambatan inovasi akibat birokrasi berlapis, dan bergantung pada pengambilan keputusan yang terpusat di level pucuk pimpinan. Untuk membangun organisasi yang adaptif dan berkelanjutan, narasumber menekankan tiga elemen strategi, yaitu penguatan budaya belajar berkelanjutan yang mendorong refleksi dan pertumbuhan di setiap lapisan organisasi, penataan struktur yang fleksibel melalui rotasi peran dan tim lintas fungsi, serta penerapan kepemimpinan yang terdistribusi agar respons organisasi terhadap perubahan dapat berlangsung lebih cepat dan tepat sasaran. Pergeseran budaya dari organisasi kaku menuju organisasi adaptif, menurut narasumber, perlu dilakukan secara bertahap dan terencana, bukan melalui perubahan instan.

Bagian kedua materi membahas pentingnya analisis persoalan organisasi yang dilakukan secara sistematis. Narasumber memperkenalkan pendekatan Root Cause Analysis (RCA) sebagai metode untuk menelusuri akar masalah, bukan sekadar menangani gejala yang tampak di permukaan, dengan alat bantu berupa metode 5 Whys dan Fishbone Diagram. Selain itu, disampaikan pula pentingnya cara berpikir sistemik atau systems thinking, mengingat setiap persoalan dalam organisasi pada dasarnya saling terhubung dalam satu sistem yang kompleks. Pemahaman atas keterkaitan tersebut disebut sebagai kunci untuk merumuskan solusi yang bersifat berkelanjutan. Narasumber turut mengingatkan bahwa kesalahan yang umum terjadi dalam organisasi adalah menyelesaikan gejala tanpa menyentuh akar masalah, sehingga persoalan yang sama berpotensi terus berulang. Untuk mendukung proses analisis tersebut, dipaparkan pula kerangka kerja empat tahap yang meliputi identifikasi, analisis, penentuan prioritas, hingga perumusan solusi, yang menurut narasumber memastikan setiap keputusan organisasi didasarkan pada bukti, bukan sekadar asumsi.

Materi selanjutnya menyoroti strategi transformasi konflik menjadi energi perubahan dalam organisasi. Konflik, dalam pemaparan tersebut, tidak diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai sinyal adanya perbedaan perspektif yang berpotensi menghasilkan inovasi baru apabila dikelola dengan tepat. Narasumber menjelaskan bahwa ketegangan yang muncul dalam organisasi dapat diubah menjadi dialog yang konstruktif dan kolaborasi lintas perbedaan, yang pada akhirnya menghasilkan solusi bersama. Dalam konteks ini, peran pemimpin strategis ditekankan pada kemampuan mendengarkan secara aktif, menetapkan aturan dialog yang sehat, serta mengarahkan energi dari konflik yang terjadi menuju agenda perbaikan organisasi.

Pada bagian keempat, disampaikan materi mengenai pengambilan keputusan berbasis scientific problem solving, yakni penerapan pendekatan ilmiah dalam proses pengambilan keputusan organisasi. Proses tersebut digambarkan sebagai siklus yang dimulai dari penyusunan hipotesis, pengujian, evaluasi, hingga iterasi yang berlangsung secara terus-menerus. Pendekatan yang terstruktur ini disebutkan dapat membantu organisasi menghindari bias kognitif, termasuk confirmation bias dan groupthink, yang berpotensi menurunkan kualitas keputusan yang diambil. Sebagai alat pendukung proses tersebut, narasumber memperkenalkan penggunaan decision matrix untuk menimbang opsi secara objektif, cost-benefit analysis untuk mengukur nilai dari setiap pilihan, serta scenario planning untuk mempersiapkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

Materi ditutup dengan pembahasan mengenai implementasi, monitoring, dan evaluasi atas solusi organisasi yang telah dirumuskan. Tahap implementasi dijelaskan sebagai penyusunan rencana aksi yang mencakup kejelasan pihak yang bertanggung jawab, bentuk kegiatan, waktu pelaksanaan, hingga sumber daya yang dibutuhkan. Tahap tersebut kemudian dilanjutkan dengan monitoring melalui indikator kinerja (KPI) dan dashboard untuk memantau progres secara berkala, serta evaluasi guna meninjau dan menyesuaikan langkah berdasarkan pelajaran yang diperoleh. Ketiga tahap tersebut digambarkan sebagai siklus yang berkelanjutan dan saling terhubung, bukan sebagai rangkaian kegiatan yang berdiri sendiri-sendiri.

Sebagai penutup materi, narasumber mengajak peserta untuk menindaklanjuti pemahaman yang diperoleh melalui langkah konkret, di antaranya menerapkan salah satu alat analisis sistematis, seperti metode 5 Whys, SWOT, atau Fishbone, pada tantangan organisasi yang tengah dihadapi masing-masing peserta; menjadwalkan sesi dialog terstruktur untuk menindaklanjuti konflik yang tertunda agar dapat diarahkan menjadi agenda perbaikan bersama; serta membangun kebiasaan menjalankan siklus Plan–Do–Check–Act (PDCA) sebagai bagian dari rutinitas kepemimpinan sehari-hari, bukan sebagai proyek yang dijalankan sekali waktu.

Dipublikasikan oleh Titik Peka — titikpeka.com | Instagram & TikTok: @titik_peka