Menjawab Stagnasi Kaderisasi, PK IPNU-IPPNU UNWAHA Hadirkan LAKMUD Bertajuk "Tombak PEKA: Kepemimpinan Teknokrat" sebagai Arah Baru Regenerasi
09 Jul 2026
Ramadani Khotibul Umam
Berita Utama
Jombang – Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU Universitas KH. Abdul Wahab Hasbullah (UNWAHA) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun kaderisasi yang berkelanjutan melalui penyelenggaraan Latihan Kader Muda (LAKMUD) bertajuk "Tombak PEKA: Kepemimpinan Teknokrat". Kegiatan ini menjadi ikhtiar organisasi dalam menjawab tantangan stagnasi kaderisasi sekaligus mempersiapkan lahirnya kader-kader pemimpin yang memiliki kapasitas intelektual, ideologis, dan manajerial untuk menghadapi dinamika organisasi maupun perkembangan zaman.
Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PK IPNU UNWAHA, Ramadani Khotibul Umam, mengungkapkan bahwa pelaksanaan LAKMUD dilatarbelakangi oleh adanya ketimpangan jenjang kaderisasi di lingkungan PK UNWAHA. Berdasarkan data organisasi, mayoritas anggota masih berada pada jenjang kaderisasi dasar (Makesta), sementara jumlah kader yang telah menempuh jenjang LAKMUD masih relatif sedikit. Kondisi tersebut menyebabkan terbatasnya kader menengah yang siap mengemban tanggung jawab strategis dalam organisasi.
"Mayoritas anggota kami masih berada pada jenjang Makesta, sedangkan kader yang telah menyelesaikan LAKMUD jumlahnya masih sangat terbatas. Akibatnya, terjadi stagnasi gerak organisasi karena belum banyak kader yang siap mengisi ruang-ruang kepemimpinan. Oleh sebab itu, LAKMUD kami hadirkan sebagai langkah konkret untuk memperkuat regenerasi dan membangun kesinambungan kaderisasi," jelasnya.
Mengusung tema "Tombak PEKA: Kepemimpinan Teknokrat", LAKMUD dirancang sebagai proses pembentukan kader yang tidak hanya kuat secara ideologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir analitis, profesional, serta mampu mengambil keputusan secara logis, efektif, dan terukur.
Menurut Ramadani, istilah "Tombak" melambangkan ujung tombak perjuangan organisasi yang berani, visioner, dan menjadi motor penggerak perubahan. Sementara "PEKA" memiliki makna ganda, yakni sebagai akronim dari Pimpinan Komisariat sekaligus menggambarkan karakter kader yang responsif terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Adapun konsep kepemimpinan teknokrat menekankan kepemimpinan yang berbasis kompetensi, kecakapan manajerial, penguasaan strategi, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara ilmiah.
Pelaksanaan LAKMUD berlangsung selama empat hari dengan menerapkan pendekatan andragogi, yaitu metode pembelajaran orang dewasa yang menempatkan peserta sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Seluruh rangkaian kegiatan disusun secara sistematis, mulai dari proses screening peserta, Sekolah Pra-LAKMUD (SPL), pembentukan kontrak belajar, analisis diri, pelaksanaan pre-test dan post-test pada setiap materi, Focus Group Discussion (FGD), review harian, simulasi persidangan, hingga prosesi Pra-Bai'at dan Bai'at sebagai penguatan komitmen kader.
Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh 15 materi inti yang dikelompokkan ke dalam tiga klaster utama. Klaster pertama membahas aspek ideologi dan keorganisasian, meliputi Aswaja II, Ke-NU-an II, Ke-IPNU/IPPNU-an II, Ke-PK-an II, Ke-Indonesiaan, serta Studi Gender II. Klaster kedua berfokus pada penguatan manajerial dan kepemimpinan melalui materi Kepemimpinan, Manajemen Organisasi, Manajemen Konflik, serta Komunikasi dan Kerja Sama Tim. Sementara klaster ketiga diarahkan pada pengembangan keterampilan dan kemampuan analisis melalui Scientific Problem Solving (SPS), Teknik Diskusi dan Persidangan, Jurnalistik, Networking dan Lobbying, serta Analisis Sosial.
Sebanyak 12 peserta mengikuti LAKMUD tahun ini, terdiri atas 11 kader internal PK IPNU-IPPNU UNWAHA/FORSAKA UNWAHA dan 1 peserta dari Pimpinan Komisariat eksternal. Seluruh peserta diharapkan mampu menjadi kader pelopor yang siap mengembangkan organisasi di tingkat komisariat maupun di tengah masyarakat.
Berbeda dengan pelatihan pada umumnya, proses kaderisasi dalam LAKMUD tidak berhenti setelah forum selesai. Seluruh peserta diwajibkan mengikuti Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bentuk pembinaan berkelanjutan. RTL tersebut meliputi Kuliah Pasca-LAKMUD (KPL) dengan dua konsentrasi, yaitu pendalaman manajemen organisasi serta strategi rekrutmen dan perawatan kader. Selain itu, peserta juga didorong aktif menjadi penulis opini dan artikel pada website Titik PEKA, mencari sedikitnya tiga kader baru sebagai bagian dari regenerasi internal, serta menyusun forum diskusi berbasis guidebook untuk pengembangan kader eksternal.
Ramadani menegaskan bahwa keberhasilan LAKMUD tidak hanya diukur dari kelulusan peserta selama pelatihan, melainkan dari perubahan kapasitas kader setelah mengikuti seluruh rangkaian pembinaan.
"Indikator keberhasilan LAKMUD bukan hanya kemampuan memahami materi melalui pre-test dan post-test, tetapi bagaimana peserta tumbuh menjadi kader yang mandiri, tangguh secara ideologi, memiliki growth mindset, berpikir kritis, adaptif terhadap perubahan, serta siap menjadi pemimpin organisasi yang mampu menghadirkan solusi di tengah masyarakat," ujarnya.
Suasana kegiatan berlangsung dinamis dan partisipatif. Berbagai metode pembelajaran seperti diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, ice breaking, hingga outbound diterapkan untuk menciptakan proses belajar yang aktif sekaligus memperkuat solidaritas antarkader.
Semangat kaderisasi juga tercermin dalam sambutan para tokoh pada pembukaan kegiatan. Ketua PC IPPNU Jombang, Rekanita Fafa, menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan PK UNWAHA.
> "PK UNWAHA adalah salah satu komisariat terbaik yang dimiliki PC IPNU-IPPNU Jombang."
Sementara itu, Ketua PK IPNU UNWAHA, Rekan Ilham, mengingatkan bahwa LAKMUD harus dimaknai sebagai proses pembentukan cara berpikir kader, bukan sekadar jenjang formal kaderisasi.
> "LAKMUD bukan sekadar pengkaderan. Maknailah seluas mungkin agar menjadi kader yang tidak sempit pola pikirnya."
Pesan senada juga disampaikan Kepala SDN Tampingmojo, Rusmiadi, M.Pd., yang mengajak seluruh peserta untuk tetap berpijak pada realitas masyarakat.
> "Jadilah kader yang tidak pernah melupakan akar rumput, karena kebermanfaatan seorang pemimpin lahir dari kedekatannya dengan masyarakat."
Di penghujung wawancara, Ramadani berharap LAKMUD menjadi titik awal lahirnya generasi pemimpin baru yang mampu membawa organisasi terus berkembang.
"Kami berharap LAKMUD ini menjadi fondasi lahirnya swasembada kader pemimpin dan penggerak yang profesional, progresif, inovatif, responsif, dan solutif. Dengan demikian, PK IPNU-IPPNU UNWAHA mampu menghadirkan kader yang tidak hanya aktif di organisasi, tetapi juga siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama," pungkasnya.
Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PK IPNU UNWAHA, Ramadani Khotibul Umam, mengungkapkan bahwa pelaksanaan LAKMUD dilatarbelakangi oleh adanya ketimpangan jenjang kaderisasi di lingkungan PK UNWAHA. Berdasarkan data organisasi, mayoritas anggota masih berada pada jenjang kaderisasi dasar (Makesta), sementara jumlah kader yang telah menempuh jenjang LAKMUD masih relatif sedikit. Kondisi tersebut menyebabkan terbatasnya kader menengah yang siap mengemban tanggung jawab strategis dalam organisasi.
"Mayoritas anggota kami masih berada pada jenjang Makesta, sedangkan kader yang telah menyelesaikan LAKMUD jumlahnya masih sangat terbatas. Akibatnya, terjadi stagnasi gerak organisasi karena belum banyak kader yang siap mengisi ruang-ruang kepemimpinan. Oleh sebab itu, LAKMUD kami hadirkan sebagai langkah konkret untuk memperkuat regenerasi dan membangun kesinambungan kaderisasi," jelasnya.
Mengusung tema "Tombak PEKA: Kepemimpinan Teknokrat", LAKMUD dirancang sebagai proses pembentukan kader yang tidak hanya kuat secara ideologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir analitis, profesional, serta mampu mengambil keputusan secara logis, efektif, dan terukur.
Menurut Ramadani, istilah "Tombak" melambangkan ujung tombak perjuangan organisasi yang berani, visioner, dan menjadi motor penggerak perubahan. Sementara "PEKA" memiliki makna ganda, yakni sebagai akronim dari Pimpinan Komisariat sekaligus menggambarkan karakter kader yang responsif terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Adapun konsep kepemimpinan teknokrat menekankan kepemimpinan yang berbasis kompetensi, kecakapan manajerial, penguasaan strategi, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara ilmiah.
Pelaksanaan LAKMUD berlangsung selama empat hari dengan menerapkan pendekatan andragogi, yaitu metode pembelajaran orang dewasa yang menempatkan peserta sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Seluruh rangkaian kegiatan disusun secara sistematis, mulai dari proses screening peserta, Sekolah Pra-LAKMUD (SPL), pembentukan kontrak belajar, analisis diri, pelaksanaan pre-test dan post-test pada setiap materi, Focus Group Discussion (FGD), review harian, simulasi persidangan, hingga prosesi Pra-Bai'at dan Bai'at sebagai penguatan komitmen kader.
Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh 15 materi inti yang dikelompokkan ke dalam tiga klaster utama. Klaster pertama membahas aspek ideologi dan keorganisasian, meliputi Aswaja II, Ke-NU-an II, Ke-IPNU/IPPNU-an II, Ke-PK-an II, Ke-Indonesiaan, serta Studi Gender II. Klaster kedua berfokus pada penguatan manajerial dan kepemimpinan melalui materi Kepemimpinan, Manajemen Organisasi, Manajemen Konflik, serta Komunikasi dan Kerja Sama Tim. Sementara klaster ketiga diarahkan pada pengembangan keterampilan dan kemampuan analisis melalui Scientific Problem Solving (SPS), Teknik Diskusi dan Persidangan, Jurnalistik, Networking dan Lobbying, serta Analisis Sosial.
Sebanyak 12 peserta mengikuti LAKMUD tahun ini, terdiri atas 11 kader internal PK IPNU-IPPNU UNWAHA/FORSAKA UNWAHA dan 1 peserta dari Pimpinan Komisariat eksternal. Seluruh peserta diharapkan mampu menjadi kader pelopor yang siap mengembangkan organisasi di tingkat komisariat maupun di tengah masyarakat.
Berbeda dengan pelatihan pada umumnya, proses kaderisasi dalam LAKMUD tidak berhenti setelah forum selesai. Seluruh peserta diwajibkan mengikuti Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bentuk pembinaan berkelanjutan. RTL tersebut meliputi Kuliah Pasca-LAKMUD (KPL) dengan dua konsentrasi, yaitu pendalaman manajemen organisasi serta strategi rekrutmen dan perawatan kader. Selain itu, peserta juga didorong aktif menjadi penulis opini dan artikel pada website Titik PEKA, mencari sedikitnya tiga kader baru sebagai bagian dari regenerasi internal, serta menyusun forum diskusi berbasis guidebook untuk pengembangan kader eksternal.
Ramadani menegaskan bahwa keberhasilan LAKMUD tidak hanya diukur dari kelulusan peserta selama pelatihan, melainkan dari perubahan kapasitas kader setelah mengikuti seluruh rangkaian pembinaan.
"Indikator keberhasilan LAKMUD bukan hanya kemampuan memahami materi melalui pre-test dan post-test, tetapi bagaimana peserta tumbuh menjadi kader yang mandiri, tangguh secara ideologi, memiliki growth mindset, berpikir kritis, adaptif terhadap perubahan, serta siap menjadi pemimpin organisasi yang mampu menghadirkan solusi di tengah masyarakat," ujarnya.
Suasana kegiatan berlangsung dinamis dan partisipatif. Berbagai metode pembelajaran seperti diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, ice breaking, hingga outbound diterapkan untuk menciptakan proses belajar yang aktif sekaligus memperkuat solidaritas antarkader.
Semangat kaderisasi juga tercermin dalam sambutan para tokoh pada pembukaan kegiatan. Ketua PC IPPNU Jombang, Rekanita Fafa, menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan PK UNWAHA.
> "PK UNWAHA adalah salah satu komisariat terbaik yang dimiliki PC IPNU-IPPNU Jombang."
Sementara itu, Ketua PK IPNU UNWAHA, Rekan Ilham, mengingatkan bahwa LAKMUD harus dimaknai sebagai proses pembentukan cara berpikir kader, bukan sekadar jenjang formal kaderisasi.
> "LAKMUD bukan sekadar pengkaderan. Maknailah seluas mungkin agar menjadi kader yang tidak sempit pola pikirnya."
Pesan senada juga disampaikan Kepala SDN Tampingmojo, Rusmiadi, M.Pd., yang mengajak seluruh peserta untuk tetap berpijak pada realitas masyarakat.
> "Jadilah kader yang tidak pernah melupakan akar rumput, karena kebermanfaatan seorang pemimpin lahir dari kedekatannya dengan masyarakat."
Di penghujung wawancara, Ramadani berharap LAKMUD menjadi titik awal lahirnya generasi pemimpin baru yang mampu membawa organisasi terus berkembang.
"Kami berharap LAKMUD ini menjadi fondasi lahirnya swasembada kader pemimpin dan penggerak yang profesional, progresif, inovatif, responsif, dan solutif. Dengan demikian, PK IPNU-IPPNU UNWAHA mampu menghadirkan kader yang tidak hanya aktif di organisasi, tetapi juga siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama," pungkasnya.