Menjawab Ragam Ragu, Menjemput Mandat Kader Terbaik di LAKMUD PK UNWAHA
15 Jul 2026
nadhifa
Karya Tulis
Tepat pada bulan Mei yang lalu, teman dekat saya mengikuti Latihan Kader Muda (LAKMUD) di PAC Ngoro. Ia menceritakan semua kegiatan yang diikutinya, dan mendengar cerita itu membuat saya tertantang untuk ikut serta.
Akhir Mei, saya mendengar kabar bahwa PK UNWAHA akan mengadakan LAKMUD. Saya sangat ingin mendaftar, selain karena tertantang, saya juga bagian dari internal yang ingin mensukseskan acara tersebut. Namun, saya melihat tanggal pelaksanaannya berbarengan dengan jadwal santri baru masuk pondok. Sebagai pengurus yang memiliki tanggung jawab di sana, saya sempat berpikir ulang untuk mendaftar.
Saya meminta saran kepada teman dekat dan orang tua karena kedua hal ini sama-sama penting bagi saya. Jawaban dari keduanya condong mendukung saya untuk ikut LAKMUD. Meski begitu, saya baru benar-benar yakin setelah bertanya kepada pengurus pondok yang lain, dan mereka menyatakan sanggup menghandle tugas tanpa saya.
Pada tanggal 22 Juni 2026, saya memberanikan diri mendaftar sebagai peserta LAKMUD perdana PK UNWAHA periode ini yang mengusung tema “Tombak Peka: Kepemimpinan Teknokrat”. Tujuan saya jelas: ingin menjadi kader yang memahami prinsip organisasi, dasar kepemimpinan, menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi, mampu memecahkan masalah, mengambil keputusan yang tepat, serta menjadi penggerak aktif di masyarakat.
Waktu screening pun tiba. Saat itu agenda saya di HMP sangat padat, sehingga tidak ada waktu untuk belajar atau membaca materi yang akan diujikan. Saya hanya bermodalkan percaya diri. Alhamdulillah, semua pertanyaan screening bisa saya jawab dengan pengetahuan yang saya miliki. Keesokan harinya, hasil diumumkan dan saya dinyatakan lolos.
Sabtu, 27 Juni 2026, Sekolah Pra-LAKMUD (SPL) diselenggarakan sebagai rangkaian wajib untuk membekali peserta. SPL ini menghadirkan pemateri yang sangat luar biasa. Materi pertama tentang spirit kader mengajarkan saya untuk mengubah pola pikir agar memiliki mental pejuang yang konsisten dan tidak mudah menyerah. Materi kedua, Critical Thinking & Literasi Digital di Era AI, mengajarkan bahwa berpikir kritis bukan berarti menolak AI secara ekstrem, melainkan bersikap skeptis intelektual. Setelah SPL, kami melaksanakan Technical Meeting (TM) pada 3 Juli 2026 untuk mempersiapkan segala kelengkapan dan pembagian kelompok.
Akhir Mei, saya mendengar kabar bahwa PK UNWAHA akan mengadakan LAKMUD. Saya sangat ingin mendaftar, selain karena tertantang, saya juga bagian dari internal yang ingin mensukseskan acara tersebut. Namun, saya melihat tanggal pelaksanaannya berbarengan dengan jadwal santri baru masuk pondok. Sebagai pengurus yang memiliki tanggung jawab di sana, saya sempat berpikir ulang untuk mendaftar.
Saya meminta saran kepada teman dekat dan orang tua karena kedua hal ini sama-sama penting bagi saya. Jawaban dari keduanya condong mendukung saya untuk ikut LAKMUD. Meski begitu, saya baru benar-benar yakin setelah bertanya kepada pengurus pondok yang lain, dan mereka menyatakan sanggup menghandle tugas tanpa saya.
Pada tanggal 22 Juni 2026, saya memberanikan diri mendaftar sebagai peserta LAKMUD perdana PK UNWAHA periode ini yang mengusung tema “Tombak Peka: Kepemimpinan Teknokrat”. Tujuan saya jelas: ingin menjadi kader yang memahami prinsip organisasi, dasar kepemimpinan, menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi, mampu memecahkan masalah, mengambil keputusan yang tepat, serta menjadi penggerak aktif di masyarakat.
Waktu screening pun tiba. Saat itu agenda saya di HMP sangat padat, sehingga tidak ada waktu untuk belajar atau membaca materi yang akan diujikan. Saya hanya bermodalkan percaya diri. Alhamdulillah, semua pertanyaan screening bisa saya jawab dengan pengetahuan yang saya miliki. Keesokan harinya, hasil diumumkan dan saya dinyatakan lolos.
Sabtu, 27 Juni 2026, Sekolah Pra-LAKMUD (SPL) diselenggarakan sebagai rangkaian wajib untuk membekali peserta. SPL ini menghadirkan pemateri yang sangat luar biasa. Materi pertama tentang spirit kader mengajarkan saya untuk mengubah pola pikir agar memiliki mental pejuang yang konsisten dan tidak mudah menyerah. Materi kedua, Critical Thinking & Literasi Digital di Era AI, mengajarkan bahwa berpikir kritis bukan berarti menolak AI secara ekstrem, melainkan bersikap skeptis intelektual. Setelah SPL, kami melaksanakan Technical Meeting (TM) pada 3 Juli 2026 untuk mempersiapkan segala kelengkapan dan pembagian kelompok.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pembukaan LAKMUD dilaksanakan dengan sangat khidmat. Rasa berkecamuk datang; saya sempat ragu apakah bisa menyelesaikan kegiatan ini dan apakah saya sudah pantas menjadi peserta. Namun, keraguan itu sirna seiring berjalannya forum. Saya sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang hebat yang kritis, tidak malu bertanya, dan kompak.
Di sela-sela forum, kami saling menyemangati dan bercanda agar rasa lelah dari 15 materi yang padat tidak terasa. Kami saling mengingatkan waktu salat dan makan. Saat Focus Group Discussion (FGD), kami memang sering beradu pendapat dan saling menyanggah presentasi kelompok lain, tetapi hal itu sama sekali tidak memutus rasa kekeluargaan kami.
Puncaknya adalah prosesi pembaiatan. Saya benar-benar terharu karena bisa bertahan hingga akhir. Dengan rasa ikhlas dan yakin, saya mengucapkan janji yang dituntun langsung oleh Ketua PC IPNU/IPPNU Jombang. Air mata saya menetes; sebuah pembuktian atas perjuangan saya sendiri.
Acara penutupan menjadi momen yang berat karena kami harus mengakhiri cerita indah yang diukir bersama. Namun, saya sadar bahwa berakhirnya LAKMUD adalah awal untuk berproses di tempat lain dengan bekal yang lebih matang. Kejutan manis pun datang, saya kembali terpilih menjadi Peserta Terbaik, mengulang prestasi saat MAKESTA lalu. Rasa bangga menyelimuti hati, namun saya ingat: “Amanah adalah fondasi dari kepercayaan yang sekali hancur akan sulit untuk dibangun kembali.” Saya akan berusaha semampu saya untuk menjaga amanah ini.
LAKMUD memberikan saya arti kekeluargaan, kedisiplinan, dan cara berpikir kritis yang objektif. Terima kasih untuk para instruktur, pelatih, panitia yang berdedikasi, serta teman-teman seperjuangan. Mari melangkah lebih jauh, Rekan dan Rekanita! Kembangkan semua hasil LAKMUD, karena kenangan indah ini akan menjadi bahan bakar perjuangan saya ke depan.
________________________________________
Di sela-sela forum, kami saling menyemangati dan bercanda agar rasa lelah dari 15 materi yang padat tidak terasa. Kami saling mengingatkan waktu salat dan makan. Saat Focus Group Discussion (FGD), kami memang sering beradu pendapat dan saling menyanggah presentasi kelompok lain, tetapi hal itu sama sekali tidak memutus rasa kekeluargaan kami.
Puncaknya adalah prosesi pembaiatan. Saya benar-benar terharu karena bisa bertahan hingga akhir. Dengan rasa ikhlas dan yakin, saya mengucapkan janji yang dituntun langsung oleh Ketua PC IPNU/IPPNU Jombang. Air mata saya menetes; sebuah pembuktian atas perjuangan saya sendiri.
Acara penutupan menjadi momen yang berat karena kami harus mengakhiri cerita indah yang diukir bersama. Namun, saya sadar bahwa berakhirnya LAKMUD adalah awal untuk berproses di tempat lain dengan bekal yang lebih matang. Kejutan manis pun datang, saya kembali terpilih menjadi Peserta Terbaik, mengulang prestasi saat MAKESTA lalu. Rasa bangga menyelimuti hati, namun saya ingat: “Amanah adalah fondasi dari kepercayaan yang sekali hancur akan sulit untuk dibangun kembali.” Saya akan berusaha semampu saya untuk menjaga amanah ini.
LAKMUD memberikan saya arti kekeluargaan, kedisiplinan, dan cara berpikir kritis yang objektif. Terima kasih untuk para instruktur, pelatih, panitia yang berdedikasi, serta teman-teman seperjuangan. Mari melangkah lebih jauh, Rekan dan Rekanita! Kembangkan semua hasil LAKMUD, karena kenangan indah ini akan menjadi bahan bakar perjuangan saya ke depan.
________________________________________