Menempa Diri, Merajut Arti: Memoar Perjalananku Di LAKMUD
15 Jul 2026
aas.prtwiii_
Karya Tulis
Kalau diingat-ingat lagi, Perjalanan ini bener-bener tidak ku sangka. Ada masa dimana aku ragu sama diri sendiri. tapi ternyata, proses yang melelahkan ini justru jadi salah satu momen terbaik dalam hidupku. JUJUR, awal mula perjalanan ini gak sekeren kedengarannya. Iseng-iseng mungkin karena dorongan ingin keluar dari zona nyaman. Ada perang batin yang berkecamuk didalam kepala. Pertanyaan-Pertanyaan seperti, "Apakah saya sudah pantas menjadi seorang kader?", "Mampukah saya mengikuti ritmennya?", "Bagaimana kalau saya nanti berhenti di tengah perjalanan?" hal itu terus berputar tanpa henti. Di saat teman-teman yang lain bisa santai rebahan atau jalan-jalan, tapi aku memilih untuk mendaftar LAKMUD. Namun, secercah keinginan untuk bertumbuh dan mendobrak zona nyaman akhirnya menenangkan pergaulan batin itu.
Ujian pertama langsung menghadap di tahap screening. Duduk mengantri giliran, melihat satu per satu teman keluar dari ruangan dengan muka tegang setengah mati. Begitu namaku dipanggil dan aku masuk ke dalam ruangan, tatapan mata para screener langsung membuat udara terasa dingin. Pertanyaan demi pertanyaan mulai ditembakkan. Mulai dari wawasan organisasi, komitmen, hingga pemahaman keagamaan dan kebangsaan. Ada momen di mana aku bingung harus jawab apa, dan takut banget kalau jawabanku dinilai salah atau gak memuaskan. namun saya tahu ini barulah awal dari gerbang penyaringan mental yang sesungguhnya.
Setelah dinyatakan lolos, badai berikutnya datang tanpa ampun: masa Pra-Lakmud. Fase ini bukan sekadar formalitas pengumpulan berkas, melainkan tempat di mana fisik dan mental dihantam tugas-tugas berat tanpa jeda. Resume materi yang berlembar-lembar. Namun, saya sempat mulai goyah dan berniat mundur tapi saya sadar, saya sedang berjalan diatas kerikil yang sama, dan tidak boleh ada salah satu pun yang tertinggal dibelakang.
Hantaman tugas Pra-Lakmud selesai, kupikir ketegangan bakal sedikit mereda. Ternyata salah besar. Technical Meeting (TM) justru membawa level kecemasan baru. Begitu masuk ke ruang TM, suasana santai langsung menguap, berganti dengan aturan-aturan kedisiplinan yang super ketat dari panitia.
Sepulang dari TM, malam-malam saya tidak lagi diisi dengan istirahat, Rasa capek fisik dan pikiran itu makin menjadi-jadi bahkan sebelum acara intinya dimulai. Tapi lucunya, di tengah-tengah riuhnya persiapan bersama teman-teman untuk melengkapi barang bawaan, rasa jaim di antara kami perlahan luruh. Saya mulai bisa tertawa bersama di tengah kepanikan, saling meminjamkan barang yang kurang, dan di situlah ikatan emosional itu mulai tumbuh secara nyata.
Dan akhirnya, hari yang paling ditakuti sekaligus dinanti itu tiba. Begitu menapakkan kaki di lokasi acara, semua rasa malas dan keraguan harus dipaksa runtuh di luar gerbang. Saya langsung diisolasi di dalam ruang forum yang intens. Jadwalnya bener-bener padat dari pagi, ketemu siang, ketemu malam, bahkan sampai ketemu pagi lagi.
Materi demi materi dari para instruktur dan senior terus dijejali ke kepala saya. Forum terasa sangat hidup penuh dengan perdebatan kritis, adu argumen yang tajam, dan sesi tanya jawab yang menguji nyali. Di awal, aku sempat minder dan takut salah buat bicara. Namun, atmosfer di sana memaksaku untuk berani, mendobrak rasa takut, dan belajar menyuarakan isi pikiran di depan umum.
Segala sesuatu yang dimulai dengan air mata perjuangan pasti akan menemui ujungnya. Setelah berhari-hari raga dihajar kelelahan dan pikiran ditempa habis-habisan dalam tekanan forum, saya akhirnya sampai di penghujung perjalanan: malam puncak penutupan dan pembaitan. Suasana ruangan seketika diubah menjadi hening total, lampu dimatikan, digantikan temaram cahaya yang syahdu. Keheningan itu menyisakan ruang refleksi yang mendalam tentang apa saja yang telah saya korbankan, pasang surut emosi yang saya lewati, dan seberapa jauh saya telah melangkah.
Ketika kalimat pelantikan mulai dibacakan dengan sakral oleh ketua PC ippnu Jombang dan kami satu per satu dinyatakan lulus sebagai kader muda, bendungan pertahanan emosi yang saya tahan sejak hari pertama pendaftaran runtuh seketika tanpa sisa. Rasa lelah yang menumpuk di pundak, pusingnya kepala memikirkan tugas essay, resume, kepanikan saat TM, dan perihnya mata karena kurang tidur selama hari-H seolah menguap begitu saja ke udara. Digantikan oleh sebuah rasa haru yang luar biasa hebat yang menjalar ke seluruh dada. Aku bersyukur “ Rasa bangga yang tak ternilai pada diriku sendiri”.
Aku berhasil! Aku yang awalnya ragu, aku yang sempat ingin menyerah di tengah jalan karena capek tugas dan kurang tidur, ternyata mampu bertahan sampai akhir. Ternyata aku jauh lebih kuat dan hebat dari apa yang aku pikirkan. Malam itu, kami saling berpelukan erat dengan mata yang sembap, merayakan kemenangan kami bersama. Saya yang penuh keraguan, tapi keluar sebagai sebuah keluarga baru yang diikat oleh peluh dan proses yang sama.
Aku pulang dengan tubuh yang remuk karena lelah, tapi dengan jiwa yang penuh dan kepala yang tegak. Lakmud secara seremonial memang sudah selesai, tapi semangat baru yang menyala di dalam dadaku ini baru saja dimulai untuk langkah-langkah pengabdian berikutnya.
Belajar, Berjuang, Bertaqwa!
Ujian pertama langsung menghadap di tahap screening. Duduk mengantri giliran, melihat satu per satu teman keluar dari ruangan dengan muka tegang setengah mati. Begitu namaku dipanggil dan aku masuk ke dalam ruangan, tatapan mata para screener langsung membuat udara terasa dingin. Pertanyaan demi pertanyaan mulai ditembakkan. Mulai dari wawasan organisasi, komitmen, hingga pemahaman keagamaan dan kebangsaan. Ada momen di mana aku bingung harus jawab apa, dan takut banget kalau jawabanku dinilai salah atau gak memuaskan. namun saya tahu ini barulah awal dari gerbang penyaringan mental yang sesungguhnya.
Setelah dinyatakan lolos, badai berikutnya datang tanpa ampun: masa Pra-Lakmud. Fase ini bukan sekadar formalitas pengumpulan berkas, melainkan tempat di mana fisik dan mental dihantam tugas-tugas berat tanpa jeda. Resume materi yang berlembar-lembar. Namun, saya sempat mulai goyah dan berniat mundur tapi saya sadar, saya sedang berjalan diatas kerikil yang sama, dan tidak boleh ada salah satu pun yang tertinggal dibelakang.
Hantaman tugas Pra-Lakmud selesai, kupikir ketegangan bakal sedikit mereda. Ternyata salah besar. Technical Meeting (TM) justru membawa level kecemasan baru. Begitu masuk ke ruang TM, suasana santai langsung menguap, berganti dengan aturan-aturan kedisiplinan yang super ketat dari panitia.
Sepulang dari TM, malam-malam saya tidak lagi diisi dengan istirahat, Rasa capek fisik dan pikiran itu makin menjadi-jadi bahkan sebelum acara intinya dimulai. Tapi lucunya, di tengah-tengah riuhnya persiapan bersama teman-teman untuk melengkapi barang bawaan, rasa jaim di antara kami perlahan luruh. Saya mulai bisa tertawa bersama di tengah kepanikan, saling meminjamkan barang yang kurang, dan di situlah ikatan emosional itu mulai tumbuh secara nyata.
Dan akhirnya, hari yang paling ditakuti sekaligus dinanti itu tiba. Begitu menapakkan kaki di lokasi acara, semua rasa malas dan keraguan harus dipaksa runtuh di luar gerbang. Saya langsung diisolasi di dalam ruang forum yang intens. Jadwalnya bener-bener padat dari pagi, ketemu siang, ketemu malam, bahkan sampai ketemu pagi lagi.
Materi demi materi dari para instruktur dan senior terus dijejali ke kepala saya. Forum terasa sangat hidup penuh dengan perdebatan kritis, adu argumen yang tajam, dan sesi tanya jawab yang menguji nyali. Di awal, aku sempat minder dan takut salah buat bicara. Namun, atmosfer di sana memaksaku untuk berani, mendobrak rasa takut, dan belajar menyuarakan isi pikiran di depan umum.
Segala sesuatu yang dimulai dengan air mata perjuangan pasti akan menemui ujungnya. Setelah berhari-hari raga dihajar kelelahan dan pikiran ditempa habis-habisan dalam tekanan forum, saya akhirnya sampai di penghujung perjalanan: malam puncak penutupan dan pembaitan. Suasana ruangan seketika diubah menjadi hening total, lampu dimatikan, digantikan temaram cahaya yang syahdu. Keheningan itu menyisakan ruang refleksi yang mendalam tentang apa saja yang telah saya korbankan, pasang surut emosi yang saya lewati, dan seberapa jauh saya telah melangkah.
Ketika kalimat pelantikan mulai dibacakan dengan sakral oleh ketua PC ippnu Jombang dan kami satu per satu dinyatakan lulus sebagai kader muda, bendungan pertahanan emosi yang saya tahan sejak hari pertama pendaftaran runtuh seketika tanpa sisa. Rasa lelah yang menumpuk di pundak, pusingnya kepala memikirkan tugas essay, resume, kepanikan saat TM, dan perihnya mata karena kurang tidur selama hari-H seolah menguap begitu saja ke udara. Digantikan oleh sebuah rasa haru yang luar biasa hebat yang menjalar ke seluruh dada. Aku bersyukur “ Rasa bangga yang tak ternilai pada diriku sendiri”.
Aku berhasil! Aku yang awalnya ragu, aku yang sempat ingin menyerah di tengah jalan karena capek tugas dan kurang tidur, ternyata mampu bertahan sampai akhir. Ternyata aku jauh lebih kuat dan hebat dari apa yang aku pikirkan. Malam itu, kami saling berpelukan erat dengan mata yang sembap, merayakan kemenangan kami bersama. Saya yang penuh keraguan, tapi keluar sebagai sebuah keluarga baru yang diikat oleh peluh dan proses yang sama.
Aku pulang dengan tubuh yang remuk karena lelah, tapi dengan jiwa yang penuh dan kepala yang tegak. Lakmud secara seremonial memang sudah selesai, tapi semangat baru yang menyala di dalam dadaku ini baru saja dimulai untuk langkah-langkah pengabdian berikutnya.
Belajar, Berjuang, Bertaqwa!