Menapaki Jejak Kader: Catatan Perjalanan dari PK UNUBA di LAKMUD PK UNWAHA

15 Jul 2026 Muh. Syihaburrohman Karya Tulis
Peserta Putra bersama Salah Satu Instruktur
Peserta Putra bersama Salah Satu Instruktur
Kaderisasi adalah jantung dari sebuah organisasi. Dari proses inilah lahir generasi penerus yang tidak hanya memahami arah perjuangan organisasi, tetapi juga memiliki karakter, integritas, serta tanggung jawab dalam menjalankan amanah. Kesempatan mengikuti Latihan Kader Muda (LAKMUD) yang diselenggarakan oleh PK IPNU-IPPNU Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya.

Sebagai peserta eksternal, saya datang dengan semangat untuk belajar sekaligus rasa penasaran tentang bagaimana proses kaderisasi di PK UNWAHA berlangsung. Selama empat hari, mulai dari tahap Technical Meeting hingga penutupan, saya mendapatkan banyak pelajaran yang tidak hanya menambah wawasan organisasi, tetapi juga mengubah cara pandang saya tentang kepemimpinan, persaudaraan, dan arti menjadi seorang kader.

Perjalanan ini sebenarnya dimulai dari Sekolah Pra Laakmud (SPL). Sayangnya, karena bertepatan dengan kegiatan aktivitas SPL saya juga ada jam kuliah di kampus saya, saya tidak dapat mengikuti SPL secara langsung. Meski demikian, saya tetap mengikuti TM untuk mencari informasi mengenai aturan dan rangkaian kegiatan dari panitia maupun peserta lain. Dari sana saya mengetahui berbagai ketentuan yang harus dipatuhi, perlengkapan yang wajib dibawa, pembagian kelompok, hingga gambaran umum kegiatan LAKMUD. Hal ini membuat saya memiliki bayangan tentang perjalanan yang akan saya jalani selama empat hari ke depan.

Sebagai peserta yang berasal dari luar PK UNWAHA, saya sempat merasa canggung. Sebagian besar peserta sudah saling mengenal sehingga muncul kekhawatiran bahwa saya akan kesulitan beradaptasi. Namun, perasaan itu perlahan menghilang ketika melihat bagaimana panitia dan peserta menyambut saya dengan sangat terbuka. Tidak ada perbedaan perlakuan antara peserta internal maupun eksternal. Sambutan hangat tersebut membuat saya merasa diterima dan semakin antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Hari pertama LAKMUD menjadi awal dari perjalanan kaderisasi yang sesungguhnya. Saya bahkan datang satu hari lebih awal dibandingkan sebagian peserta lainnya agar dapat mempersiapkan diri dengan baik. Sebelum registrasi dan pembukaan resmi dimulai, kami saling berkenalan, bertukar nomor WhatsApp, dan mulai mencairkan suasana. Di tengah obrolan santai, salah seorang peserta bahkan berinisiatif berkata, "Nanti kalau forum sudah dimulai, kita wajib menggoreng pemateri dan inspel." Kalimat itu langsung membuat semangat mereka berkobar dan membuat suasana menjadi lebih akrab.
Setelah kegiatan resmi dimulai, berbagai materi disampaikan oleh para pemateri. Yang menarik, materi tidak hanya berisi teori organisasi, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi nyata yang sedang dihadapi organisasi saat ini. Cara penyampaian yang komunikatif membuat setiap pembahasan terasa lebih relevan, mudah dipahami, dan mendorong peserta untuk aktif berdiskusi, ada juga pemateri yang berpidato, ada pemateri yang menyampaikaan materi berdasarkan pegalama nya.

Dari hari pertama ini saya mulai menyadari bahwa kaderisasi bukan sekadar proses menambah ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, kaderisasi adalah proses membentuk karakter. Seorang kader tidak cukup hanya memahami teori organisasi, tetapi juga harus memiliki kedisiplinan, komitmen, kemampuan bekerja sama, serta semangat untuk terus belajar. Nilai-nilai tersebut sudah mulai terasa sejak hari pertama melalui budaya disiplin, saling menghargai, dan rasa tanggung jawab yang ditunjukkan oleh panitia maupun seluruh peserta.
Memasuki hari kedua, dinamika kegiatan semakin terasa. Berbagai forum diskusi, presentasi kelompok, hingga aktivitas yang menuntut kerja sama menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Saya bertemu dengan peserta dari internal yang memiliki pengalaman organisasi yang berbeda-beda. Perbedaan latar belakang tersebut justru membuat setiap diskusi menjadi lebih hidup.

Dalam setiap forum, perbedaan pendapat bukan menjadi alasan untuk saling menjatuhkan. Sebaliknya, perbedaan menjadi kesempatan untuk saling melengkapi dan memperkaya sudut pandang. Saya belajar bahwa tidak semua persoalan organisasi memiliki satu jawaban yang benar. Justru melalui dialog dan musyawarah, solusi terbaik dapat ditemukan.

Sebagai peserta eksternal, saya merasa memiliki ruang yang luas untuk belajar. Saya dapat melihat bagaimana setiap peserta membawa budaya organisasi dari daerahnya masing-masing, kemudian menyatukannya dalam semangat yang sama sebagai kader IPNU dan IPPNU. Dari sinilah saya memahami bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang mampu memperkokoh organisasi apabila dikelola dengan baik.

Hari ketiga menjadi puncak dari seluruh rangkaian kegiatan. Jadwal yang semakin padat mulai menguji ketahanan fisik dan mental setiap peserta bahkan ada sedikkit yang sakit dan pulang(pulang 1 hari). Rasa lelah tentu tidak dapat dihindari, tetapi semangat kebersamaan membuat semuanya terasa lebih ringan. Kami saling mengingatkan untuk tetap semangat, saling membantu ketika ada yang kesulitan, dan saling memberi motivasi agar mampu menyelesaikan seluruh proses dengan baik.
Justru di tengah rasa lelah itulah saya merasakan makna persaudaraan yang sesungguhnya. Momen-momen sederhana seperti berdiskusi hingga larut malam, berbagi cerita pengalaman organisasi, saling bercanda untuk menghilangkan rasa kantuk, hingga saling menyemangati ketika kondisi mulai menurun menjadi kenangan yang paling berkesan selama mengikuti LAKMUD.

Pada hari ini pula saya benar-benar merasakan bahwa tidak ada lagi sekat antara peserta internal maupun eksternal. Semua diperlakukan sama sebagai kader yang sedang belajar dan berproses bersama. Nilai ukhuwah yang selama ini hanya saya dengar dalam materi benar-benar saya rasakan dalam kehidupan sehari-hari selama kegiatan berlangsung. Pengalaman ini mengajarkan bahwa organisasi yang kuat dibangun atas dasar rasa saling menghormati, saling percaya, dan saling mendukung.

Hari terakhir menjadi penutup dari seluruh perjalanan yang telah kami lalui bersama. Kegiatan refleksi dan evaluasi memberikan kesempatan kepada setiap peserta untuk melihat kembali proses yang telah dijalani selama empat hari. Saya menyadari bahwa banyak perubahan yang saya rasakan, baik dari cara berpikir maupun cara memandang arti menjadi seorang kader.

Saya datang sebagai seseorang yang belum mengenal siapa pun. Namun, saya pulang dengan membawa banyak teman baru, pengalaman yang berharga, dan semangat yang semakin kuat untuk terus berkhidmah di organisasi. Rasanya, empat hari yang singkat mampu menghadirkan begitu banyak pelajaran yang mungkin tidak saya dapatkan di tempat lain.
Prosesi penutupan berlangsung dengan suasana yang penuh haru. Ada rasa bangga karena berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian LAKMUD, tetapi di sisi lain muncul rasa sedih karena harus berpisah dengan teman-teman yang dalam waktu singkat sudah terasa seperti keluarga sendiri. Kebersamaan yang terjalin selama empat hari meninggalkan kesan yang begitu mendalam.

Saya pun menyadari bahwa nilai terbesar dari sebuah kaderisasi bukanlah sertifikat yang diperoleh atau banyaknya materi yang disampaikan. Nilai terbesarnya justru terletak pada proses yang membentuk karakter, melatih mental, memperluas cara berpikir, serta membangun ikatan persaudaraan antarkader.

Bagi saya, mengikuti LAKMUD PK IPNU-IPPNU UNWAHA bukan hanya menjadi pengalaman untuk memperkaya wawasan organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenal dan menempa diri. Kegiatan ini mengajarkan bahwa menjadi seorang kader berarti siap belajar sepanjang hayat, siap menerima perbedaan sebagai kekuatan, serta siap mengabdikan kemampuan yang dimiliki demi kemajuan organisasi dan kemaslahatan masyarakat.

Sebagai peserta eksternal, saya merasa diterima dengan sangat baik. Sambutan hangat dari panitia maupun peserta menjadi bukti bahwa kaderisasi bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan juga proses membangun keluarga besar yang saling mendukung dalam perjuangan.

Empat hari mengikuti LAKMUD mungkin terasa singkat jika dihitung berdasarkan waktu. Namun, makna yang saya bawa pulang akan menjadi bekal dalam perjalanan saya sebagai kader. Setiap materi menjadi tambahan ilmu, setiap diskusi menjadi ruang belajar, setiap tantangan menjadi proses pendewasaan, dan setiap kebersamaan menjadi pengingat bahwa perjuangan dalam organisasi tidak pernah dilakukan sendirian.

Semoga semangat yang tumbuh selama mengikuti LAKMUD PK UNWAHA terus terjaga, sehingga setiap kader mampu menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, bertanggung jawab, serta senantiasa memberikan manfaat bagi organisasi, masyarakat, bangsa, dan agama. Sebab pada akhirnya, kaderisasi bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan langkah awal untuk terus tumbuh, belajar, dan mengabdi.