Di Balik Keraguan, Aku Menemukan Arah
12 Jul 2026
Akmal Hilmi
Karya Tulis
Akhir bulan Juni seharusnya menjadi waktu yang menyenangkan. Ujian Akhir Semester telah selesai, dan banyak teman memanfaatkan waktu luang untuk beristirahat atau pulang ke rumah. Namun, bagiku liburan seolah hanya menjadi angan. Tugas kuliah masih menumpuk dan berbagai tanggung jawab organisasi juga menunggu untuk diselesaikan. Di tengah padatnya aktivitas itu, muncul informasi bahwa Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU UNWAHA akan mengadakan Latihan Kader Muda (Lakmud) perdana dengan tema "LAKMUD TOMBAK PK: Kepemimpinan Teknokrat.".Beberapa waktu sebelumnya aku diminta oleh pengurus untuk mengikuti kegiatan tersebut. Jujur saja, saat pertama kali mendengar ajakan itu aku langsung berpikir untuk menolaknya. Dalam benakku muncul banyak pertanyaan. Apakah aku sudah mampu? Bagaimana kalau aku tidak bisa mengikuti prosesnya? Bukankah masih banyak tugas yang harus kuselesaikan? Semakin kupikirkan, semakin besar pula keraguanku. Aku merasa belum pantas mengikuti jenjang kaderisasi itu. Rasanya masih banyak kekurangan yang ada dalam diriku.
Namun, para pengurus tidak berhenti meyakinkanku. Mereka terus memberikan motivasi bahwa Lakmud bukan tempat untuk mencari orang yang sudah sempurna, melainkan tempat untuk membentuk kader agar menjadi lebih baik. Kalimat itu perlahan mengubah cara pandangku. Akhirnya, pada tanggal 19 Juni aku memberanikan diri untuk mendaftarkan diri sebagai peserta Lakmud.Perjalanan ternyata tidak langsung menuju hari pelaksanaan. Ada beberapa tahapan pra-Lakmud yang harus diikuti sebagai bekal sebelum memasuki proses utama, yaitu screening, Sekolah Pra-Lakmud, dan Technical Meeting.
Tanggal 25 Juni menjadi pengalaman pertamaku dalam proses tersebut. Hari itu dilaksanakan screening. Kami diwawancarai satu per satu mengenai berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat. Kami diminta menyampaikan bagaimana cara menyikapi dan menyelesaikan persoalan tersebut sebagai seorang kader. Awalnya aku merasa gugup. Takut jawabanku kurang tepat atau bahkan tidak sesuai harapan. Akan tetapi, aku mencoba menjawab berdasarkan apa yang kupahami selama ini. Keesokan harinya diumumkan nama-nama peserta yang lolos screening. Rasa syukur langsung memenuhi pikiranku ketika melihat namaku ada di daftar tersebut. Itu menjadi semangat baru bagiku untuk melanjutkan proses berikutnya.
Tanggal 27 Juni dilaksanakan Sekolah Pra-Lakmud. Di sana kami mendapatkan dua materi penting, yaitu Spirit Kader dan Critical Thinking & Digitalisasi AI. Materi pertama menjelaskan bahwa seorang kader bukan hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga harus mampu menjadi teladan bagi anggotanya. Menjadi kader berarti siap menjaga sikap, ucapan, dan tindakan di mana pun berada. Sementara itu, materi Critical Thinking & Digitalisasi AI membuka wawasanku bahwa perkembangan teknologi tidak boleh membuat kader kehilangan kemampuan berpikir kritis. Media sosial dan kecerdasan buatan memang memberikan banyak kemudahan, tetapi semuanya tetap harus digunakan secara bijaksana dan bertanggung jawab. Seorang kader tidak boleh mudah percaya terhadap informasi yang beredar tanpa melakukan tabayun dan analisis terlebih dahulu.
Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 3 Juli, dilaksanakan Technical Meeting. Pada kesempatan itu panitia menjelaskan tujuan Lakmud, aturan selama kegiatan, serta berbagai perlengkapan yang harus dipersiapkan. Suasana mulai terasa berbeda. Kegiatan yang selama ini hanya kubayangkan kini benar-benar sudah di depan mata.
Tanggal 6 Juli akhirnya tiba. Lakmud resmi dibuka dan berlangsung hingga tanggal 9 Juli. Selama empat hari itu kami menjalani proses yang padat. Kami dibina, dibimbing, diberikan berbagai materi, berdiskusi, hingga diarahkan bagaimana seharusnya seorang kader bersikap ketika berada di tengah organisasi maupun masyarakat. Di tengah seluruh rangkaian materi, ada satu ucapan instruktur yang sampai hari ini masih terus teringat dalam pikiranku. Beliau mengatakan bahwa banyak kader yang bersemangat mempelajari berbagai keterampilan kepemimpinan, komunikasi, dan manajemen organisasi, tetapi masih lemah dalam memahami ideologi, terutama Ahlussunnah wal Jamaah dan ke-NU-an. Padahal, ideologi merupakan pondasi utama. Tanpa pondasi yang kuat, keterampilan sehebat apa pun bisa kehilangan arah. Skill memang penting, tetapi jika tidak dibangun di atas nilai dan ideologi yang benar, maka semuanya dapat menjadi kacau.
Ucapan itu membuatku merenung cukup lama. Selama ini aku sering berpikir bahwa menjadi kader yang baik cukup dengan memiliki kemampuan berbicara, memimpin, atau mengelola organisasi. Ternyata aku salah. Semua kemampuan itu harus diawali dengan pemahaman ideologi yang kuat agar setiap langkah perjuangan memiliki arah yang jelas.
Lakmud tidak mengubahku menjadi sosok yang sempurna hanya dalam empat hari. Bahkan setelah kegiatan selesai, aku masih merasa memiliki banyak kekurangan. Namun, setidaknya Lakmud telah mengubah cara pandangku. Aku mulai memahami bahwa proses kaderisasi bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan tentang siapa yang mau terus belajar dan memperbaiki diri.Kini aku menyadari bahwa perjalanan menjadi kader masih sangat panjang. Lakmud bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Aku ingin terus belajar menjadi kader yang bertanggung jawab, memiliki kompetensi, mencintai organisasi dengan sepenuh hati, serta mampu membangun komunikasi dan kerja sama yang baik dengan sesama kader maupun anggota. Semua itu memang belum sepenuhnya ada dalam diriku hari ini, tetapi aku percaya setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawaku menuju tujuan tersebut.
Di balik semua keraguan yang pernah kurasakan sebelum Lakmud, ternyata aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah arah untuk terus bertumbuh dan berproses menjadi kader yang tidak hanya memiliki kemampuan, tetapi juga memiliki ideologi yang kokoh sebagai bekal dalam setiap pengabdian.
Namun, para pengurus tidak berhenti meyakinkanku. Mereka terus memberikan motivasi bahwa Lakmud bukan tempat untuk mencari orang yang sudah sempurna, melainkan tempat untuk membentuk kader agar menjadi lebih baik. Kalimat itu perlahan mengubah cara pandangku. Akhirnya, pada tanggal 19 Juni aku memberanikan diri untuk mendaftarkan diri sebagai peserta Lakmud.Perjalanan ternyata tidak langsung menuju hari pelaksanaan. Ada beberapa tahapan pra-Lakmud yang harus diikuti sebagai bekal sebelum memasuki proses utama, yaitu screening, Sekolah Pra-Lakmud, dan Technical Meeting.
Tanggal 25 Juni menjadi pengalaman pertamaku dalam proses tersebut. Hari itu dilaksanakan screening. Kami diwawancarai satu per satu mengenai berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat. Kami diminta menyampaikan bagaimana cara menyikapi dan menyelesaikan persoalan tersebut sebagai seorang kader. Awalnya aku merasa gugup. Takut jawabanku kurang tepat atau bahkan tidak sesuai harapan. Akan tetapi, aku mencoba menjawab berdasarkan apa yang kupahami selama ini. Keesokan harinya diumumkan nama-nama peserta yang lolos screening. Rasa syukur langsung memenuhi pikiranku ketika melihat namaku ada di daftar tersebut. Itu menjadi semangat baru bagiku untuk melanjutkan proses berikutnya.
Tanggal 27 Juni dilaksanakan Sekolah Pra-Lakmud. Di sana kami mendapatkan dua materi penting, yaitu Spirit Kader dan Critical Thinking & Digitalisasi AI. Materi pertama menjelaskan bahwa seorang kader bukan hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga harus mampu menjadi teladan bagi anggotanya. Menjadi kader berarti siap menjaga sikap, ucapan, dan tindakan di mana pun berada. Sementara itu, materi Critical Thinking & Digitalisasi AI membuka wawasanku bahwa perkembangan teknologi tidak boleh membuat kader kehilangan kemampuan berpikir kritis. Media sosial dan kecerdasan buatan memang memberikan banyak kemudahan, tetapi semuanya tetap harus digunakan secara bijaksana dan bertanggung jawab. Seorang kader tidak boleh mudah percaya terhadap informasi yang beredar tanpa melakukan tabayun dan analisis terlebih dahulu.
Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 3 Juli, dilaksanakan Technical Meeting. Pada kesempatan itu panitia menjelaskan tujuan Lakmud, aturan selama kegiatan, serta berbagai perlengkapan yang harus dipersiapkan. Suasana mulai terasa berbeda. Kegiatan yang selama ini hanya kubayangkan kini benar-benar sudah di depan mata.
Tanggal 6 Juli akhirnya tiba. Lakmud resmi dibuka dan berlangsung hingga tanggal 9 Juli. Selama empat hari itu kami menjalani proses yang padat. Kami dibina, dibimbing, diberikan berbagai materi, berdiskusi, hingga diarahkan bagaimana seharusnya seorang kader bersikap ketika berada di tengah organisasi maupun masyarakat. Di tengah seluruh rangkaian materi, ada satu ucapan instruktur yang sampai hari ini masih terus teringat dalam pikiranku. Beliau mengatakan bahwa banyak kader yang bersemangat mempelajari berbagai keterampilan kepemimpinan, komunikasi, dan manajemen organisasi, tetapi masih lemah dalam memahami ideologi, terutama Ahlussunnah wal Jamaah dan ke-NU-an. Padahal, ideologi merupakan pondasi utama. Tanpa pondasi yang kuat, keterampilan sehebat apa pun bisa kehilangan arah. Skill memang penting, tetapi jika tidak dibangun di atas nilai dan ideologi yang benar, maka semuanya dapat menjadi kacau.
Ucapan itu membuatku merenung cukup lama. Selama ini aku sering berpikir bahwa menjadi kader yang baik cukup dengan memiliki kemampuan berbicara, memimpin, atau mengelola organisasi. Ternyata aku salah. Semua kemampuan itu harus diawali dengan pemahaman ideologi yang kuat agar setiap langkah perjuangan memiliki arah yang jelas.
Lakmud tidak mengubahku menjadi sosok yang sempurna hanya dalam empat hari. Bahkan setelah kegiatan selesai, aku masih merasa memiliki banyak kekurangan. Namun, setidaknya Lakmud telah mengubah cara pandangku. Aku mulai memahami bahwa proses kaderisasi bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan tentang siapa yang mau terus belajar dan memperbaiki diri.Kini aku menyadari bahwa perjalanan menjadi kader masih sangat panjang. Lakmud bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Aku ingin terus belajar menjadi kader yang bertanggung jawab, memiliki kompetensi, mencintai organisasi dengan sepenuh hati, serta mampu membangun komunikasi dan kerja sama yang baik dengan sesama kader maupun anggota. Semua itu memang belum sepenuhnya ada dalam diriku hari ini, tetapi aku percaya setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawaku menuju tujuan tersebut.
Di balik semua keraguan yang pernah kurasakan sebelum Lakmud, ternyata aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah arah untuk terus bertumbuh dan berproses menjadi kader yang tidak hanya memiliki kemampuan, tetapi juga memiliki ideologi yang kokoh sebagai bekal dalam setiap pengabdian.