Dari Screening Hingga RTL: Sepak Terjang Kaderisasi di LAKMUD Perdana PK IPNU IPPNU UNWAHA
15 Jul 2026
M. Darwisy Al Farisi
Karya Tulis
Saya adalah salah satu kader yang bergerak di Pimpinan Komisariat IPNU IPPNU UNWAHA. Tanggal 6-9 Juli 2026 kemarin, kami akhirnya berhasil menggelar sesuatu yang sudah lama ditunggu: LAKMUD Perdana, pengkaderan formal pertama yang diikuti 12 peserta. Satu hal yang bikin acara ini beda dari biasanya, ada peserta yang datang jauh-jauh dari Universitas NU Bangil, Pasuruan. Bukan cuma soal jarak, tapi soal bagaimana IPNU IPPNU ternyata masih punya daya tarik yang bisa menembus tembok kampus dan wilayah masing-masing.
Saya ikut dari ujung ke ujung proses ini, dan jujur, capeknya nggak main-main. Semua dimulai dari Screening Peserta. Tiap calon peserta wajib menulis esai bertema "Korelasi IPNU IPPNU dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi". Awalnya saya pikir ini cuma formalitas administratif biasa. Tapi pas benar-benar duduk dan menulis, saya sadar ini semacam tes kejujuran ke diri sendiri: selama ini saya berorganisasi karena benar-benar paham posisinya, atau cuma ikut arus karena sudah jadi rutinitas?
Setelah lolos screening, lanjut ke SPL (Sekolah Pra Lakmud). Di tahap ini kami dibekali dasar-dasar sebelum masuk ke inti pengkaderan, semacam pemanasan sebelum lari jarak jauh. Pada SPL ada penugasan dari rekan M. Syaifurohman alumni PK Uin Kediri, merangkum materi lakmud yang ada di Prisma Pemikiran Pelajar yang berjumlah 16 materi hemzz. Tak berselang lama, ada Technical Meeting (TM) untuk menyamakan pemahaman soal teknis acara, aturan main, dan jadwal, biar semua peserta tidak buta arah saat hari-H tiba.
Puncaknya adalah LAKMUD itu sendiri, empat hari yang padat dan melelahkan tapi juga penuh kejutan. Dari sekian banyak materi, ada satu yang benar-benar nyangkut di kepala saya, yaitu materi Ansos (Analisis Sosial). Ada satu kalimat yang sampai sekarang masih terngiang:
"Sebagai organisasi keterpelajaran, IPNU-IPPNU tidak cukup hanya berhenti pada pemenuhan kebutuhan intelektual anggotanya. Setelah aspek keterpelajaran tercapai, tantangan berikutnya adalah bagaimana IPNU-IPPNU mampu keluar dari ruang-ruang internal organisasi untuk menghadirkan gagasan, gerakan, dan pengabdian yang berdampak nyata bagi masyarakat."
Waktu itu saya cuma diam sebentar, lalu dalam hati bilang "mak jleg". Selama ini saya, dan mungkin banyak kader lain, merasa cukup puas kalau sudah rajin ikut kajian dan diskusi internal. Padahal itu baru separuh jalan. PR sebenarnya justru dimulai setelah kita merasa "sudah pintar" “sudah puas dengan hasil” bagaimana supaya semua diskusi itu tidak berhenti jadi obrolan di dalam ruangan, tapi benar-benar keluar dan menyentuh orang-orang di luar lingkaran organisasi.
Saya ikut dari ujung ke ujung proses ini, dan jujur, capeknya nggak main-main. Semua dimulai dari Screening Peserta. Tiap calon peserta wajib menulis esai bertema "Korelasi IPNU IPPNU dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi". Awalnya saya pikir ini cuma formalitas administratif biasa. Tapi pas benar-benar duduk dan menulis, saya sadar ini semacam tes kejujuran ke diri sendiri: selama ini saya berorganisasi karena benar-benar paham posisinya, atau cuma ikut arus karena sudah jadi rutinitas?
Setelah lolos screening, lanjut ke SPL (Sekolah Pra Lakmud). Di tahap ini kami dibekali dasar-dasar sebelum masuk ke inti pengkaderan, semacam pemanasan sebelum lari jarak jauh. Pada SPL ada penugasan dari rekan M. Syaifurohman alumni PK Uin Kediri, merangkum materi lakmud yang ada di Prisma Pemikiran Pelajar yang berjumlah 16 materi hemzz. Tak berselang lama, ada Technical Meeting (TM) untuk menyamakan pemahaman soal teknis acara, aturan main, dan jadwal, biar semua peserta tidak buta arah saat hari-H tiba.
Puncaknya adalah LAKMUD itu sendiri, empat hari yang padat dan melelahkan tapi juga penuh kejutan. Dari sekian banyak materi, ada satu yang benar-benar nyangkut di kepala saya, yaitu materi Ansos (Analisis Sosial). Ada satu kalimat yang sampai sekarang masih terngiang:
"Sebagai organisasi keterpelajaran, IPNU-IPPNU tidak cukup hanya berhenti pada pemenuhan kebutuhan intelektual anggotanya. Setelah aspek keterpelajaran tercapai, tantangan berikutnya adalah bagaimana IPNU-IPPNU mampu keluar dari ruang-ruang internal organisasi untuk menghadirkan gagasan, gerakan, dan pengabdian yang berdampak nyata bagi masyarakat."
Waktu itu saya cuma diam sebentar, lalu dalam hati bilang "mak jleg". Selama ini saya, dan mungkin banyak kader lain, merasa cukup puas kalau sudah rajin ikut kajian dan diskusi internal. Padahal itu baru separuh jalan. PR sebenarnya justru dimulai setelah kita merasa "sudah pintar" “sudah puas dengan hasil” bagaimana supaya semua diskusi itu tidak berhenti jadi obrolan di dalam ruangan, tapi benar-benar keluar dan menyentuh orang-orang di luar lingkaran organisasi.
Dalam rangkaian puncak acara, yaitu prosesi pembaiatan kader, yang dibaiat oleh Ketua PC IPNU IPPNU Kabupaten Jombang, Rekan Husain (ketua PC IPNU), sempat memberi pesan sebelum membaiat kami satu per satu. Pesannya sederhana tapi diucapkan sampai tiga kali berturut-turut, seolah memang sengaja ditanamkan supaya benar-benar melekat: agar kami tetap ber-IPNU IPPNU dengan baik dan benar, di manapun kami berada. Kalimat yang diulang tiga kali itu terasa lebih seperti titah yang dipegang erat-erat, bukan basa-basi seremonial. Bagi saya, itu jadi pengingat bahwa status kader bukan cuma soal identitas di struktur organisasi, tapi cara berpikir dan bersikap yang harus terbawa ke mana pun kami melangkah, di kampus, di pondok, atau di tengah masyarakat.
Setelah LAKMUD usai, prosesnya belum selesai. Peserta masih harus menuntaskan RTL 1 dan RTL 2 (Rencana Tindak Lanjut), sebagai bentuk pertanggungjawaban sekaligus bukti nyata bahwa apa yang dipelajari selama LAKMUD tidak berhenti jadi teori di atas kertas.
Buat saya pribadi, LAKMUD Perdana ini bukan sekadar seremoni naik jenjang keanggotaan yang harus dilalui begitu saja. Ini proses yang benar-benar mengubah cara pandang saya soal IPNU IPPNU: dari organisasi yang selama ini identik dengan kajian dan diskusi internal, jadi organisasi yang harus berani keluar dan berdampak. PR-nya jelas, bagaimana IPNU IPPNU UNWAHA tidak lagi jalan di tempat dan monoton, tapi terus bergerak jadi wadah keterpelajaran yang benar-benar hidup dan berguna, khususnya buat lingkungan Pondok Pesantren Tambakberas dan sekitarnya.
Setelah LAKMUD usai, prosesnya belum selesai. Peserta masih harus menuntaskan RTL 1 dan RTL 2 (Rencana Tindak Lanjut), sebagai bentuk pertanggungjawaban sekaligus bukti nyata bahwa apa yang dipelajari selama LAKMUD tidak berhenti jadi teori di atas kertas.
Buat saya pribadi, LAKMUD Perdana ini bukan sekadar seremoni naik jenjang keanggotaan yang harus dilalui begitu saja. Ini proses yang benar-benar mengubah cara pandang saya soal IPNU IPPNU: dari organisasi yang selama ini identik dengan kajian dan diskusi internal, jadi organisasi yang harus berani keluar dan berdampak. PR-nya jelas, bagaimana IPNU IPPNU UNWAHA tidak lagi jalan di tempat dan monoton, tapi terus bergerak jadi wadah keterpelajaran yang benar-benar hidup dan berguna, khususnya buat lingkungan Pondok Pesantren Tambakberas dan sekitarnya.