Dari Ragu Menjadi Tangguh: Menempa Diri dalam Kawah Candradimuka Lakmud

15 Jul 2026 Adienda Nabila Karya Tulis
gerbang awal menuju pengkaderan
gerbang awal menuju pengkaderan
Memutuskan untuk melangkah ke jenjang kaderisasi yang lebih tinggi bukanlah sebuah pilihan yang mudah bagi saya. Ketika kabar tentang pelaksanaan LAKMUD di PK IPNU IPPNU UNWAHA mulai terdengar, jujur saja, sama sekali tidak ada minat di hati saya untuk mendaftarkan diri. Ada sebuah ketakutan besar dan rasa tidak percaya diri yang terus mengganjal di dalam pikiran. Saya kerap bertanya pada diri sendiri apakah saya sudah pantas dan layak untuk menyandang gelar sebagai seorang kader muda. Ketidakpercayaan diri itu semakin memuncak karena saya merasa belum mampu berpikir secara kritis dan taktis sebagaimana layaknya profil seorang kader ideal. Namun, gelombang dukungan dari banyak pihak tidak berhenti mengalir, pesan-pesan penyemangat terus masuk ke ponsel saya. Salah satu titik balik yang paling membekas adalah motivasi dari Ketua PK IPPNU yang meyakinkan saya bahwa proses belajar itu sifatnya bertahap. Beliau menegaskan bahwa kita tidak dituntut untuk langsung bisa menguasai segalanya, melainkan berjalan untuk bertumbuh bersama. Kebimbangan yang mendalam itu akhirnya membawa saya untuk bersimpuh meminta restu kepada Ibu. Kata-kata Ibu malam itu menjadi penguat mutlak yang meruntuhkan keraguan saya: "Yo meluo to nduk nambah ilmu, ben akeh pengalaman barang." Berbekal restu luhur tersebut dan tekad yang bulat, saya akhirnya memantapkan diri untuk mendaftar tepat satu hari sebelum penutupan pendaftaran.

Awalnya, saya mengira alur kegiatannya akan berjalan santai dan langsung menuju tahapan Technical Meeting seperti saat mengikuti Makesta dahulu. Namun, dugaan saya keliru karena ternyata ada tahapan screening berupa wawancara penerimaan yang wajib dilalui oleh seluruh calon peserta. Tanpa persiapan materi sama sekali, saya sempat terkejut saat berhadapan langsung dengan tim penguji. Di tengah kegugupan itu, saya memutuskan untuk menjawab semua pertanyaan dengan jujur, seadanya, dan seotentik mungkin berdasarkan apa yang saya ketahui.

Sempat pasrah dan berpikir bahwa nama saya tidak akan lolos, takdir ternyata berkata lain ketika pengumuman resmi dirilis dan saya dinyatakan lulus. Setelah momentum mendebarkan itu, kami langsung diarahkan untuk mengikuti agenda Technical Meeting guna mendapatkan pengarahan teknis yang komprehensif mengenai susunan acara dari hari pertama hingga hari terakhir, serta detail perlengkapan wajib yang harus dibawa ke forum. Sebelum memasuki acara inti, kami juga diwajibkan untuk menuntaskan Sekolah Pra-Lakmud (SPL) yang dikemas dalam bentuk seminar interaktif. Lewat SPL inilah, mata saya mulai terbuka lebar setelah menerima materi Critical Thinking dan Literasi Digital yang membahas metode serta prosedur perbaikan pembelajaran, disusul dengan materi Spirit Kader yang menekankan bahwa penguasaan soft skill dan komunikasi yang santun jauh lebih krusial bagi masa depan organisasi ketimbang sekadar hard skill.

Memasuki hari pertama LAKMUD, atmosfer belajar di dalam forum terasa semakin intens, disiplin, dan sarat akan ilmu-ilmu baru. Kami mulai meletakkan fondasi ideologi dan keorganisasian yang kuat melalui materi Aswaja NU II yang membedah konsep landasan berpikir serta Mabadi’ Khoiru Ummah untuk membentuk umat yang terbaik. Pemahaman kami diperluas lagi dengan materi Ke-IPNU IPPNU-an II yang menekankan pentingnya nilai ukhuwah, kepedulian sosial, dan rasa kebersamaan yang kokoh demi menjaga keberlanjutan roda organisasi. Hari pertama yang melelahkan namun produktif ini kemudian ditutup dengan materi Ke-PK-an II, yang menegaskan peran strategis Pimpinan Komisariat di lingkungan perguruan tinggi sebagai ruang aman untuk memproduksi pengetahuan dan menempatkan NU sebagai manhajul fikr atau metode berpikir yang moderat. Rangkaian materi di hari pertama ini sukses merekonstruksi kembali mentalitas kami agar siap menjadi penggerak yang progresif.

Dinamika belajar dan gemblengan fisik serta mental semakin melesat tinggi ketika kami memasuki hari kedua. Di hari ini, kami ditempa secara maraton dengan enam materi padat yang sangat berorientasi pada aksi nyata di lapangan. Sepanjang hari, kami berturut-turut menerima materi tentang Keindonesiaan, Kepemimpinan, Manajemen Organisasi, Manajemen Konflik, Komunikasi dan Kerja Sama Tim, serta Scientific Problem Solving. Ruang kelas berubah menjadi laboratorium sosial di mana kami tidak sekadar menghafal teori, tetapi diajarkan secara langsung bagaimana menempatkan diri sebagai pemimpin yang bijaksana, mengelola gesekan atau konflik internal di dalam tim, hingga merumuskan solusi berbasis ilmiah untuk memecahkan problematika yang terjadi di tengah masyarakat.
foto dengan beribu kenangan
foto dengan beribu kenangan
Keterampilan strategis kami semakin diasah secara taktis dan aplikatif pada hari ketiga melalui lima materi penting yang sangat menantang, yaitu Teknik Rapat, Diskusi, dan Sidang; Jurnalistik; Networking dan Lobbying; serta Studi Gender dan Analisis Sosial (Ansos). Materi-materi ini membekali kami dengan alat perjuangan yang nyata untuk bergerak secara cerdas, baik di ranah domestik masyarakat maupun di lingkungan dinamis kampus. Setelah seharian penuh memeras otak dengan simulasi sidang dan analisis sosial yang mendalam, tibalah momen yang paling sakral dan emosional di malam harinya, yaitu prosesi pembaiatan kader.

Di bawah sakralnya keheningan malam dan pendar lilin, kami mengucapkan janji setia serta komitmen penuh untuk berkhidmat sebagai kader sejati. Segala rasa lelah, kantuk, dan penat yang berkumpul selama berhari-hari rasanya melebur seketika menjadi rasa haru yang membuncah serta tanggung jawab besar yang kini terpikul di pundak. Momen sakral ini sekaligus menjawab keraguan awal saya: kini saya telah sah menjadi bagian dari napas perjuangan nahdliyin. Rangkaian panjang dan melelahkan ini akhirnya resmi berakhir pada hari keempat yang ditutup dengan seremoni penutupan penuh kehangatan, haru, dan rasa bangga. Empat hari penuh dinamika ini telah berhasil mengubah keraguan terbesar saya menjadi sebuah keyakinan yang menghujam kuat, dan kini perjalanan khidmat yang sesungguhnya baru saja dimulai.