Dari Peserta Menjadi Pembelajar: Catatan Sebuah Pengalaman
14 Jul 2026
Moh Ridwan Firdaus
Karya Tulis
Setiap kegiatan yang diikuti tidak hanya menjadi agenda yang berlalu begitu saja, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar yang memberikan pengalaman berharga bagi setiap pesertanya. Hal tersebut saya rasakan ketika mengikuti kegiatan Latihan Kader Muda (Lakmud) yang diawali dengan pra-kegiatan di Kantor NU Sambong dan dilanjutkan dengan pelaksanaan hari H di SD Tamping Mojo. Pengalaman ini bukan sekadar menghadiri rangkaian kegiatan formal, melainkan menjadi proses pembelajaran yang membentuk cara berpikir, sikap, dan pandangan saya mengenai organisasi, kepemimpinan, serta pentingnya proses kaderisasi. Dari seorang peserta yang datang dengan rasa ingin tahu, saya pulang sebagai pembelajar yang membawa banyak pelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan berorganisasi maupun bermasyarakat.
Pra-Lakmud yang dilaksanakan di Kantor NU Sambong menjadi langkah awal dalam membangun kesiapan peserta. Suasana kantor NU yang sederhana namun penuh dengan nilai perjuangan memberikan kesan tersendiri. Tempat tersebut mengingatkan bahwa organisasi besar lahir dari semangat pengabdian, bukan dari kemewahan fasilitas. Selama kegiatan berlangsung, peserta dikenalkan kembali pada nilai-nilai dasar organisasi, pentingnya kaderisasi, serta tanggung jawab generasi muda dalam menjaga keberlangsungan perjuangan Nahdlatul Ulama melalui IPNU dan IPPNU. Di tempat inilah saya menyadari bahwa menjadi kader bukan sekadar memiliki kartu anggota atau mengenakan atribut organisasi, melainkan memiliki kesadaran untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan siap mengabdi kepada masyarakat.
Dalam sekolah pra lakmud terdapat 2 materi demgan hal itu menunjukan bahwa kader siap menjadi spirit juang dan literasi digital supaya siap menghadapi tantangan zaman. Pada hari H lakmud dibekali 15 materi dengan materi tersebut kita diajarkan responsif dalam berpikir juga di ajarkan untuk menerapkan apa yang telah diajarkan dari situ menjadi kader yang mempunyai makna strategis dalam bertindak dan menjadi penanggung jawab menjadi kader.
Materi-materi yang disampaikan selama pra-kegiatan tidak hanya berisi teori organisasi, tetapi juga mengajak peserta untuk berdialog, berpikir kritis, dan menyampaikan pendapat. Para pemateri memberikan pengalaman nyata mengenai tantangan organisasi di era digital, pentingnya integritas dalam kepemimpinan, serta perlunya membangun komunikasi yang baik di tengah keberagaman karakter anggota. Dari proses tersebut saya memahami bahwa organisasi akan berkembang apabila kadernya memiliki kemauan belajar dan mampu menerima perbedaan sebagai kekuatan, bukan sebagai penghalang.
Pelaksanaan hari H di SD Tamping Mojo memberikan pengalaman yang lebih mendalam. Seluruh peserta mengikuti berbagai agenda yang telah disusun secara sistematis, mulai dari penyampaian materi, diskusi kelompok, presentasi, hingga kegiatan yang melatih kedisiplinan dan kerja sama. Lingkungan sekolah yang digunakan sebagai lokasi kegiatan menciptakan suasana yang sederhana namun kondusif. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa proses belajar dapat berlangsung di mana saja selama terdapat semangat untuk berkembang.
Selama mengikuti kegiatan, saya melihat bagaimana setiap peserta berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada yang telah lama aktif dalam organisasi, ada pula yang baru memulai perjalanan sebagai kader. Perbedaan tersebut justru menciptakan ruang belajar yang kaya akan pengalaman. Diskusi yang dilakukan tidak hanya bertujuan menemukan jawaban atas suatu persoalan, tetapi juga melatih kemampuan mendengarkan, menghargai pendapat orang lain, serta mencari solusi bersama. Pengalaman ini mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah kemampuan untuk selalu berbicara, melainkan kemampuan untuk mendengar, memahami, dan menggerakkan orang lain menuju tujuan yang sama.
Salah satu pelajaran terbesar yang saya peroleh adalah pentingnya proses. Dalam organisasi, tidak ada keberhasilan yang datang secara instan. Seorang pemimpin yang baik lahir melalui proses panjang yang dipenuhi dengan latihan, evaluasi, pengalaman, bahkan kesalahan. Lakmud memberikan ruang bagi peserta untuk merasakan proses tersebut. Setiap materi, tugas, dan dinamika kelompok sebenarnya dirancang untuk membentuk karakter, bukan hanya menambah pengetahuan. Oleh karena itu, keberhasilan mengikuti kegiatan tidak diukur dari sertifikat yang diperoleh, melainkan dari perubahan sikap dan cara berpikir setelah kegiatan selesai.
Pengalaman di SD Tamping Mojo juga memperlihatkan bahwa kerja sama merupakan fondasi utama dalam sebuah organisasi. Tidak ada satu pun kegiatan yang dapat berjalan dengan baik tanpa adanya koordinasi antara panitia, pemateri, fasilitator, dan peserta. Semua memiliki peran yang saling melengkapi. Dari sini saya belajar bahwa keberhasilan organisasi tidak bergantung pada satu orang, tetapi pada kemampuan seluruh anggotanya untuk bekerja sama dengan penuh tanggung jawab. Nilai inilah yang sangat relevan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, karena setiap individu memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang harmonis.
Selain memperoleh pengetahuan mengenai organisasi, kegiatan ini juga membentuk karakter peserta. Disiplin terhadap waktu, tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru, serta keberanian menyampaikan pendapat menjadi kebiasaan yang terus dilatih selama kegiatan berlangsung. Meskipun terasa melelahkan, proses tersebut justru menjadi bagian yang paling berkesan karena membuktikan bahwa pembentukan karakter memerlukan latihan yang konsisten.
Bagi saya, Lakmud bukan hanya tentang memahami teori kepemimpinan, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih rendah hati. Semakin banyak pengalaman yang diperoleh, semakin disadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari. Kesadaran tersebut menjadi modal penting bagi seorang kader agar tidak mudah merasa puas, tetapi terus meningkatkan kapasitas diri. Seorang pembelajar sejati adalah mereka yang mampu mengambil hikmah dari setiap pengalaman, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang penuh tantangan.
Pengalaman ini juga memberikan pemahaman bahwa kaderisasi merupakan investasi jangka panjang bagi organisasi. Organisasi tidak akan mampu bertahan apabila tidak memiliki kader yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan. Oleh karena itu, setiap kegiatan kaderisasi harus dipandang sebagai proses pembentukan manusia yang berintegritas, memiliki wawasan luas, serta mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai kader Nahdlatul Ulama.
Pada akhirnya, mengikuti kegiatan di Kantor NU Sambong dan SD Tamping Mojo memberikan pelajaran yang jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan. Saya datang sebagai peserta dengan harapan memperoleh ilmu, tetapi pulang sebagai pembelajar yang memahami bahwa belajar tidak pernah berhenti setelah kegiatan selesai. Justru setelah kembali ke lingkungan masing-masing, tantangan sesungguhnya dimulai, yaitu bagaimana mengamalkan seluruh nilai yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata.
Melalui pengalaman ini saya semakin yakin bahwa setiap kegiatan kaderisasi memiliki makna yang mendalam apabila diikuti dengan kesungguhan. Dari seorang peserta saya belajar menjadi pembelajar, dari pembelajar saya belajar menjadi penggerak, dan dari penggerak saya berharap dapat menjadi kader yang mampu memberikan manfaat bagi organisasi, masyarakat, agama, bangsa, dan negara. Pengalaman di Kantor NU Sambong dan SD Tamping Mojo akan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan saya sebagai kader yang terus belajar, bertumbuh, dan mengabdi.
Pra-Lakmud yang dilaksanakan di Kantor NU Sambong menjadi langkah awal dalam membangun kesiapan peserta. Suasana kantor NU yang sederhana namun penuh dengan nilai perjuangan memberikan kesan tersendiri. Tempat tersebut mengingatkan bahwa organisasi besar lahir dari semangat pengabdian, bukan dari kemewahan fasilitas. Selama kegiatan berlangsung, peserta dikenalkan kembali pada nilai-nilai dasar organisasi, pentingnya kaderisasi, serta tanggung jawab generasi muda dalam menjaga keberlangsungan perjuangan Nahdlatul Ulama melalui IPNU dan IPPNU. Di tempat inilah saya menyadari bahwa menjadi kader bukan sekadar memiliki kartu anggota atau mengenakan atribut organisasi, melainkan memiliki kesadaran untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan siap mengabdi kepada masyarakat.
Dalam sekolah pra lakmud terdapat 2 materi demgan hal itu menunjukan bahwa kader siap menjadi spirit juang dan literasi digital supaya siap menghadapi tantangan zaman. Pada hari H lakmud dibekali 15 materi dengan materi tersebut kita diajarkan responsif dalam berpikir juga di ajarkan untuk menerapkan apa yang telah diajarkan dari situ menjadi kader yang mempunyai makna strategis dalam bertindak dan menjadi penanggung jawab menjadi kader.
Materi-materi yang disampaikan selama pra-kegiatan tidak hanya berisi teori organisasi, tetapi juga mengajak peserta untuk berdialog, berpikir kritis, dan menyampaikan pendapat. Para pemateri memberikan pengalaman nyata mengenai tantangan organisasi di era digital, pentingnya integritas dalam kepemimpinan, serta perlunya membangun komunikasi yang baik di tengah keberagaman karakter anggota. Dari proses tersebut saya memahami bahwa organisasi akan berkembang apabila kadernya memiliki kemauan belajar dan mampu menerima perbedaan sebagai kekuatan, bukan sebagai penghalang.
Pelaksanaan hari H di SD Tamping Mojo memberikan pengalaman yang lebih mendalam. Seluruh peserta mengikuti berbagai agenda yang telah disusun secara sistematis, mulai dari penyampaian materi, diskusi kelompok, presentasi, hingga kegiatan yang melatih kedisiplinan dan kerja sama. Lingkungan sekolah yang digunakan sebagai lokasi kegiatan menciptakan suasana yang sederhana namun kondusif. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa proses belajar dapat berlangsung di mana saja selama terdapat semangat untuk berkembang.
Selama mengikuti kegiatan, saya melihat bagaimana setiap peserta berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada yang telah lama aktif dalam organisasi, ada pula yang baru memulai perjalanan sebagai kader. Perbedaan tersebut justru menciptakan ruang belajar yang kaya akan pengalaman. Diskusi yang dilakukan tidak hanya bertujuan menemukan jawaban atas suatu persoalan, tetapi juga melatih kemampuan mendengarkan, menghargai pendapat orang lain, serta mencari solusi bersama. Pengalaman ini mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah kemampuan untuk selalu berbicara, melainkan kemampuan untuk mendengar, memahami, dan menggerakkan orang lain menuju tujuan yang sama.
Salah satu pelajaran terbesar yang saya peroleh adalah pentingnya proses. Dalam organisasi, tidak ada keberhasilan yang datang secara instan. Seorang pemimpin yang baik lahir melalui proses panjang yang dipenuhi dengan latihan, evaluasi, pengalaman, bahkan kesalahan. Lakmud memberikan ruang bagi peserta untuk merasakan proses tersebut. Setiap materi, tugas, dan dinamika kelompok sebenarnya dirancang untuk membentuk karakter, bukan hanya menambah pengetahuan. Oleh karena itu, keberhasilan mengikuti kegiatan tidak diukur dari sertifikat yang diperoleh, melainkan dari perubahan sikap dan cara berpikir setelah kegiatan selesai.
Pengalaman di SD Tamping Mojo juga memperlihatkan bahwa kerja sama merupakan fondasi utama dalam sebuah organisasi. Tidak ada satu pun kegiatan yang dapat berjalan dengan baik tanpa adanya koordinasi antara panitia, pemateri, fasilitator, dan peserta. Semua memiliki peran yang saling melengkapi. Dari sini saya belajar bahwa keberhasilan organisasi tidak bergantung pada satu orang, tetapi pada kemampuan seluruh anggotanya untuk bekerja sama dengan penuh tanggung jawab. Nilai inilah yang sangat relevan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, karena setiap individu memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang harmonis.
Selain memperoleh pengetahuan mengenai organisasi, kegiatan ini juga membentuk karakter peserta. Disiplin terhadap waktu, tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru, serta keberanian menyampaikan pendapat menjadi kebiasaan yang terus dilatih selama kegiatan berlangsung. Meskipun terasa melelahkan, proses tersebut justru menjadi bagian yang paling berkesan karena membuktikan bahwa pembentukan karakter memerlukan latihan yang konsisten.
Bagi saya, Lakmud bukan hanya tentang memahami teori kepemimpinan, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih rendah hati. Semakin banyak pengalaman yang diperoleh, semakin disadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari. Kesadaran tersebut menjadi modal penting bagi seorang kader agar tidak mudah merasa puas, tetapi terus meningkatkan kapasitas diri. Seorang pembelajar sejati adalah mereka yang mampu mengambil hikmah dari setiap pengalaman, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang penuh tantangan.
Pengalaman ini juga memberikan pemahaman bahwa kaderisasi merupakan investasi jangka panjang bagi organisasi. Organisasi tidak akan mampu bertahan apabila tidak memiliki kader yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan. Oleh karena itu, setiap kegiatan kaderisasi harus dipandang sebagai proses pembentukan manusia yang berintegritas, memiliki wawasan luas, serta mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai kader Nahdlatul Ulama.
Pada akhirnya, mengikuti kegiatan di Kantor NU Sambong dan SD Tamping Mojo memberikan pelajaran yang jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan. Saya datang sebagai peserta dengan harapan memperoleh ilmu, tetapi pulang sebagai pembelajar yang memahami bahwa belajar tidak pernah berhenti setelah kegiatan selesai. Justru setelah kembali ke lingkungan masing-masing, tantangan sesungguhnya dimulai, yaitu bagaimana mengamalkan seluruh nilai yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata.
Melalui pengalaman ini saya semakin yakin bahwa setiap kegiatan kaderisasi memiliki makna yang mendalam apabila diikuti dengan kesungguhan. Dari seorang peserta saya belajar menjadi pembelajar, dari pembelajar saya belajar menjadi penggerak, dan dari penggerak saya berharap dapat menjadi kader yang mampu memberikan manfaat bagi organisasi, masyarakat, agama, bangsa, dan negara. Pengalaman di Kantor NU Sambong dan SD Tamping Mojo akan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan saya sebagai kader yang terus belajar, bertumbuh, dan mengabdi.