Dari Peserta Menjadi Kader: Catatan Perjalanan Saya di LAKMUD Tombak Peka 2026
15 Jul 2026
Ahmad Qomarudin
Karya Tulis
Saya datang ke Pra LAKMUD dengan pikiran yang sederhana: mengikuti pelatihan kader seperti kegiatan organisasi pada umumnya. Membawa buku catatan, pakaian secukupnya, dan tentu saja semangat untuk belajar. Namun, saya pulang dengan membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada sertifikat atau kumpulan materi. Saya pulang dengan cara pandang yang baru tentang arti menjadi seorang kader.
Pra LAKMUD menjadi pembuka yang menarik. Suasananya berbeda dari kegiatan-kegiatan yang pernah saya ikuti sebelumnya. Jika biasanya peserta sibuk memikirkan perlengkapan dan jadwal acara, kali ini kami justru diajak menyiapkan cara berpikir. Materi tentang Spirit Kader dan Critical Thinking & Literasi Digital seakan menjadi alarm bahwa tantangan kader hari ini tidak lagi hanya soal hadir dalam forum atau aktif menjalankan program kerja, tetapi juga bagaimana mampu bersikap kritis di tengah derasnya arus informasi.
Satu kalimat yang paling saya ingat adalah bahwa kita harus mampu mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi. Kalimat sederhana itu membuat saya sadar bahwa menjadi kader pada era digital membutuhkan kemampuan berpikir yang jauh lebih matang. Tidak semua informasi harus dipercaya, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua pendapat harus dibenarkan tanpa proses berpikir yang jernih.
Ketika LAKMUD resmi dibuka, saya merasakan ada perubahan dalam diri saya. Saat itu saya mulai menyadari bahwa saya tidak lagi hanya datang sebagai peserta. Saya sedang memasuki proses untuk menjadi kader yang sesungguhnya. Perasaan itu semakin kuat ketika materi demi materi mulai disampaikan.
Materi Aswaja, Ke-NU-an, hingga Ke-IPNU-IPPNU bukan sekadar menjelaskan sejarah organisasi. Saya justru melihat bahwa organisasi ini memiliki akar nilai yang kuat. Saya memahami bahwa menjadi kader berarti melanjutkan perjuangan panjang para ulama dan pendahulu yang telah membangun tradisi keilmuan, kebangsaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Kesadaran itu membuat saya berpikir bahwa jabatan di organisasi hanyalah amanah sementara, sedangkan menjadi kader adalah identitas yang melekat sepanjang hayat.
Hari kedua menjadi titik yang paling membekas bagi saya. Materi kepemimpinan membuka cara pandang saya bahwa pemimpin bukanlah orang yang paling banyak berbicara atau paling sering tampil di depan. Pemimpin adalah orang yang berani memikul tanggung jawab ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Permainan kelompok yang kami lakukan memperlihatkan satu hal sederhana: kelompok yang saling menyalahkan akan tertinggal, sedangkan kelompok yang saling percaya akan menemukan jalan keluar.
Saya juga mulai memahami bahwa konflik di organisasi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru konflik adalah tanda bahwa organisasi sedang hidup. Yang menjadi persoalan bukan konfliknya, melainkan bagaimana kita menyikapinya. Selama ini, banyak organisasi berhenti berkembang karena energi anggotanya habis untuk mempertahankan ego, bukan mencari solusi bersama.
Bagi saya, materi yang paling relevan dengan kondisi organisasi saat ini adalah Scientific Problem Solving. Selama ini kita sering terburu-buru mencari siapa yang salah ketika sebuah program gagal. Padahal, persoalan organisasi jauh lebih kompleks daripada sekadar menyalahkan individu. LAKMUD mengajarkan bahwa setiap masalah harus dipahami akar penyebabnya terlebih dahulu. Mengapa kegiatan sepi? Mengapa kader tidak aktif? Mengapa komunikasi tidak berjalan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang seharusnya dijawab sebelum menentukan solusi.
Cara berpikir seperti ini menurut saya sangat dibutuhkan oleh organisasi mahasiswa saat ini. Kita sering kali sibuk menyelesaikan gejala, tetapi lupa mengobati penyebabnya. Akibatnya, persoalan yang sama terus berulang dari satu periode ke periode berikutnya.
Hari-hari berikutnya semakin memperkuat keyakinan saya bahwa kaderisasi bukanlah proses menghafal materi. Kaderisasi adalah proses membentuk karakter. Materi tentang teknik persidangan, jurnalistik, networking, analisis sosial, hingga studi gender bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi pribadi yang mampu bekerja sama, menghargai perbedaan, serta peka terhadap persoalan masyarakat.
Dari seluruh rangkaian LAKMUD, saya akhirnya memahami bahwa organisasi tidak membutuhkan kader yang sekadar pandai berbicara. Organisasi membutuhkan kader yang mampu berpikir, bekerja, dan menyelesaikan persoalan. Dunia terus berubah, tantangan semakin kompleks, sehingga kader tidak cukup hanya memiliki semangat perjuangan. Semangat itu harus diiringi dengan kompetensi, kemampuan membaca situasi, dan keberanian mengambil keputusan yang tepat.
Bagi saya, empat hari mengikuti LAKMUD bukanlah akhir dari proses kaderisasi. Justru di situlah perjalanan sebenarnya dimulai. Sertifikat yang kami terima bukanlah hadiah atas keberhasilan, melainkan pengingat bahwa ada amanah yang harus dijalankan setelah kembali ke komisariat masing-masing.
Kini saya memahami bahwa menjadi kader bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang diikuti, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada organisasi dan masyarakat. Sebab pada akhirnya, kader terbaik bukanlah mereka yang paling dikenal, tetapi mereka yang tetap bekerja, belajar, dan mengabdi meskipun tidak selalu terlihat.
Itulah pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang dari LAKMUD.
Pra LAKMUD menjadi pembuka yang menarik. Suasananya berbeda dari kegiatan-kegiatan yang pernah saya ikuti sebelumnya. Jika biasanya peserta sibuk memikirkan perlengkapan dan jadwal acara, kali ini kami justru diajak menyiapkan cara berpikir. Materi tentang Spirit Kader dan Critical Thinking & Literasi Digital seakan menjadi alarm bahwa tantangan kader hari ini tidak lagi hanya soal hadir dalam forum atau aktif menjalankan program kerja, tetapi juga bagaimana mampu bersikap kritis di tengah derasnya arus informasi.
Satu kalimat yang paling saya ingat adalah bahwa kita harus mampu mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi. Kalimat sederhana itu membuat saya sadar bahwa menjadi kader pada era digital membutuhkan kemampuan berpikir yang jauh lebih matang. Tidak semua informasi harus dipercaya, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua pendapat harus dibenarkan tanpa proses berpikir yang jernih.
Ketika LAKMUD resmi dibuka, saya merasakan ada perubahan dalam diri saya. Saat itu saya mulai menyadari bahwa saya tidak lagi hanya datang sebagai peserta. Saya sedang memasuki proses untuk menjadi kader yang sesungguhnya. Perasaan itu semakin kuat ketika materi demi materi mulai disampaikan.
Materi Aswaja, Ke-NU-an, hingga Ke-IPNU-IPPNU bukan sekadar menjelaskan sejarah organisasi. Saya justru melihat bahwa organisasi ini memiliki akar nilai yang kuat. Saya memahami bahwa menjadi kader berarti melanjutkan perjuangan panjang para ulama dan pendahulu yang telah membangun tradisi keilmuan, kebangsaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Kesadaran itu membuat saya berpikir bahwa jabatan di organisasi hanyalah amanah sementara, sedangkan menjadi kader adalah identitas yang melekat sepanjang hayat.
Hari kedua menjadi titik yang paling membekas bagi saya. Materi kepemimpinan membuka cara pandang saya bahwa pemimpin bukanlah orang yang paling banyak berbicara atau paling sering tampil di depan. Pemimpin adalah orang yang berani memikul tanggung jawab ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Permainan kelompok yang kami lakukan memperlihatkan satu hal sederhana: kelompok yang saling menyalahkan akan tertinggal, sedangkan kelompok yang saling percaya akan menemukan jalan keluar.
Saya juga mulai memahami bahwa konflik di organisasi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru konflik adalah tanda bahwa organisasi sedang hidup. Yang menjadi persoalan bukan konfliknya, melainkan bagaimana kita menyikapinya. Selama ini, banyak organisasi berhenti berkembang karena energi anggotanya habis untuk mempertahankan ego, bukan mencari solusi bersama.
Bagi saya, materi yang paling relevan dengan kondisi organisasi saat ini adalah Scientific Problem Solving. Selama ini kita sering terburu-buru mencari siapa yang salah ketika sebuah program gagal. Padahal, persoalan organisasi jauh lebih kompleks daripada sekadar menyalahkan individu. LAKMUD mengajarkan bahwa setiap masalah harus dipahami akar penyebabnya terlebih dahulu. Mengapa kegiatan sepi? Mengapa kader tidak aktif? Mengapa komunikasi tidak berjalan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang seharusnya dijawab sebelum menentukan solusi.
Cara berpikir seperti ini menurut saya sangat dibutuhkan oleh organisasi mahasiswa saat ini. Kita sering kali sibuk menyelesaikan gejala, tetapi lupa mengobati penyebabnya. Akibatnya, persoalan yang sama terus berulang dari satu periode ke periode berikutnya.
Hari-hari berikutnya semakin memperkuat keyakinan saya bahwa kaderisasi bukanlah proses menghafal materi. Kaderisasi adalah proses membentuk karakter. Materi tentang teknik persidangan, jurnalistik, networking, analisis sosial, hingga studi gender bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi pribadi yang mampu bekerja sama, menghargai perbedaan, serta peka terhadap persoalan masyarakat.
Dari seluruh rangkaian LAKMUD, saya akhirnya memahami bahwa organisasi tidak membutuhkan kader yang sekadar pandai berbicara. Organisasi membutuhkan kader yang mampu berpikir, bekerja, dan menyelesaikan persoalan. Dunia terus berubah, tantangan semakin kompleks, sehingga kader tidak cukup hanya memiliki semangat perjuangan. Semangat itu harus diiringi dengan kompetensi, kemampuan membaca situasi, dan keberanian mengambil keputusan yang tepat.
Bagi saya, empat hari mengikuti LAKMUD bukanlah akhir dari proses kaderisasi. Justru di situlah perjalanan sebenarnya dimulai. Sertifikat yang kami terima bukanlah hadiah atas keberhasilan, melainkan pengingat bahwa ada amanah yang harus dijalankan setelah kembali ke komisariat masing-masing.
Kini saya memahami bahwa menjadi kader bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang diikuti, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada organisasi dan masyarakat. Sebab pada akhirnya, kader terbaik bukanlah mereka yang paling dikenal, tetapi mereka yang tetap bekerja, belajar, dan mengabdi meskipun tidak selalu terlihat.
Itulah pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang dari LAKMUD.