Dari Keraguan Menuju Keyakinan: Menemukan Makna Kaderisasi dalam Perjalanan Lakmud

14 Jul 2026 Binta Aulia Karya Tulis
sebuah foto dengan seribu kenangan
sebuah foto dengan seribu kenangan
"Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil. Begitu juga perjalanan saya menuju Latihan Kader Muda (Lakmud)."
Jika mengingat kembali bagaimana semuanya dimulai, saya masih tersenyum sendiri. Kemarin, mengikuti Lakmud bukanlah sesuatu yang benar-benar saya rencanakan. Bahkan, ketika pertama kali mendengar bahwa PK IPNU IPPNU UNWAHA akan mengadakan Lakmud, hal pertama yang muncul di pikiranku bukanlah semangat, melainkan keraguan dan ketakutan.
Aku bertanya pada diri sendiri, "Apakah aku mampu mengikuti semua rangkaian kegiatannya? Apakah aku sanggup menyelesaikan semua tugas yang diberikan? Apakah aku sudah pantas ada di jenjang kaderisasi ini?" Pertanyaan pertanyaan itu terus memenuhi pikiranku, hingga beberapa kali aku hampir mengurungkan niat untuk mendaftar. aku merasa masih banyak kekurangan dalam diriku, baik dari segi pengalaman maupun kemampuan.
Namun, di balik semua keraguan itu, ada beberapa panitia yang terus memberikan dorongan dan dukungan. Mereka tidak pernah bosan mengingatkan bahwa pendaftaran masih dibuka dan meyakinkanku agar tidak melewatkan kesempatan berharga ini. Awalnya aku menganggap mereka terlalu memaksa. Akan tetapi, setelah dipikirkan kembali, aku sadar bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah sebuah paksaan, melainkan bentuk kepedulian agar aku berani keluar dari zona nyaman. Akhirnya, setelah mengumpulkan niat dan keberanian yang masih setengah-setengah, aku memutuskan untuk mendaftarkan diri.
Perjalanan menuju Lakmud dimulai dari proses screening. Hari itu aku datang dengan perasaan gugup, dredeg dan takut. Aku melihat peserta lain yang tampak begitu percaya diri, sedangkan aku malah merasa bingung. Selama proses screening berlangsung, aku hanya berusaha menjawab setiap pertanyaan semampuku tanpa memiliki ekspektasi yang tinggi kepada diriku sendiri.
Beberapa hari kemudian, pengumuman hasil screening diumumkan lewat grup Whatsapp. Aku membaca daftar peserta yang dinyatakan lolos. Betapa kagetnya aku ketika mlihat namaku ada di daftar nama nama yang lolos tersebut. Rasanya sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya aku mulai berpikir bahwa mungkin aku memang mampu menjalani proses kaderisasi ini. Kelulusan screening ini menjadi titik awal yang perlahan mengubah keraguanku menjadi keyakinan.
Tahapan selanjutnya adalah Sekolah Pra-Lakmud. Di sinilah saya mulai mengenal lebih dalam tentang arti kaderisasi. Berbagai materi yang diberikan tidak hanya menambah wawasan tentang organisasi, tapi juga membangun mental kami sebagai calon peserta Lakmud. Aku mulai paham bahwa menjadi seorang kader bukan hanya tentang memiliki kemampuan berbicara atau memimpin, tapi juga tentang kemauan kita untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Setelah Sekolah Pra-Lakmud, kami mengikuti Technical Meeting. Pada kegiatan ini panitia menjelaskan seluruh rangkaian kegiatan yang akan di jalani selama Lakmud berlangsung. Mulai dari tata tertib, perlengkapan yang harus dibawa, jadwal kegiatan, sampai berbagai aturan yang harus dipatuhi selama empat hari kegiatan. Penjelasan ini yang membuatku memiliki gambaran tentang apa yang akan aku lakukan dan hadapi di Lakmud nanti. Walaupun rasa gugup masih ada, setidaknya saya merasa lebih siap secara mental.
Akhirnya hari yang dinanti pun tiba.
Pagi itu langit terlihat begitu cerah, seolah menyambut langkah kami menuju tempat pelaksanaan Lakmud. Meski suasana pagi terlihat begitu indah, hatiku justru dipenuhi berbagai macam perasaan. Gugup, takut, penasaran, sekaligus antusias bercampur aduk jadi satu.
Sesampainya di lokasi, aku melihat peserta lain mulai berdatangan. Ada yang terlihat sangat percaya diri, ada juga yang sama gugupnya sepertiku. Untung saja, panitia menyambut kami dengan hangat. Candaan sederhana yang mereka lontarkan perlahan membuat suasana menjadi lebih santai. Setelah seluruh peserta berkumpul, kami mengikuti opening ceremony sebagai tanda dimulainya perjalanan kaderisasi.
Hari pertama diisi dengan berbagai materi mengenai ideologi organisasi. Awalnya saya berpikir bahwa organisasi hanyalah tempat belajar memimpin, berbicara di depan umum, atau memperluas relasi. Namun, di tengah penyampaian materi, ada seorang instruktur yang mengatakan sesuatu yang hingga saat ini masih saya ingat dengan jelas."Ideologi merupakan pondasi utama. Tanpa pondasi yang kuat, keterampilan sehebat apa pun akan kehilangan arah." Dari perkataan yang di ucapkan, aku mulai mengubah cara pandangku terhadap organisasi. Sebelumnya aku menganggap organisasi hanyalah tempat untuk kita belajar memimpin, berbicara ditempat umum, atau sekedar menambah relasi. Namun, dari perkataan inspel tadi, saya sadar bahwa organisasi memiliki makna yang lebih dalam. Aku paham jika keterampilan tanpa landasan akan hilang arah. Sebaliknya jika kemampuan dipadukan dengan ideologi yang benar, maka setiap Tindakan yang dilakukan akan memiliki tujuan yang jelas dan membawa manfaat bagi banyak orang lain. Aku mulai memahami bahwa organisasi bukan sekadar tempat mencari pengalaman. Organisasi adalah tempat membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai perjuangan, dan memperkuat ideologi sebagai pedoman dalam setiap langkah pengabdian. Saya menyadari bahwa keterampilan memang penting, tetapi tanpa landasan nilai yang kuat, semua kemampuan itu akan kehilangan tujuan.
Hari kedua dimulai dengan jadwal yang padat. Meskipun tubuh mulai lelah, semangat untuk mengikuti setiap kegiatan justru semakin tumbuh. Kami mendapatkan materi mengenai kepemimpinan, tanggung jawab, komunikasi, serta pentingnya kerja sama dalam organisasi. Selain materi, diskusi kelompok dan dinamika yang kami jalani membuat saya belajar untuk lebih berpikir kritis dan menghargai pendapat orang lain. Awalnya aku ragu untuk menyampaikan pendapat. Tapi, suasana diskusi yang hangat membuatku perlahan berani berbicara. Dari sinilah aku belajar bahwa
“organisasi bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan tentang bagaimana setiap orang mampu berjalan bersama untuk mencapai tujuan yang sama.”
Hari ketiga menjadi titik balik perjalanan saya. Kelelahan mulai terasa, tetapi kebersamaan dengan seluruh peserta justru jadi penyemangat terbesar. Kami saling membantu ketika kesulitan, saling mengingatkan, bahkan saling menguatkan di tengah padatnya aktivitas.
Aku mulai sadar bahwa Lakmud bukan hanya tentang menerima materi di dalam ruangan. Tapi juga proses menempa diri. Di setiap tantangan aku belajar keteguhan. Di setiap perbedaan pendapatkita belajar saling menghargai. Di setiap kebersamaan aku menemukan arti persaudaraan. Keraguan yang dulu memenuhi pikiranku perlahan menghilang dan berubah menjadi keyakinan bahwa keputusan mengikuti Lakmud adalah keputusan yang tepat.
Tidak terasa, hari keempat tiba. Ada rasa bahagia karena berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan, tetapi di sisi lain ada rasa sedih karena perjalanan yang penuh cerita ini akan berakhir. Empat hari memang terasa singkat, tetapi pelajaran yang saya peroleh akan selalu ku ingat.
“Lakmud bukan akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar sebagai seorang kader.”
Aku datang dengan membawa keraguan, tapi pulang membawa keyakinan. Aku datang dengan rasa takut, tapi pulang dengan keberanian untuk terus belajar.
Lakmud mengajarkanku bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah merasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada. Setiap proses yang kami lalui telah membentuk cara pandangku terhadap organisasi, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, tapi rumah untuk belajar, bertumbuh, mengabdi, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Terima kasih kepada seluruh panitia, instruktur dan pelatih, pendamping, serta rekan rekanitaku seperjuangan yang telah menjadi bagian dari perjalanan berharga ini. Terima kasih atas setiap ilmu, pengalaman, perhatian, dan ketulusan yang diberikan kepada kami selama proses kaderisasi berlangsung. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan menjadi amal jariyah dan dibalas dengan keberkahan oleh Allah Swt.