Berawal dari Penasaran: Perjalanan Menemukan Makna Kaderisasi

13 Jul 2026 Dinda Cahyani Karya Tulis
Sebuah foto mungkin hanya mengabadikan momen, tetapi cerita di baliknya menyimpan proses yang akan selalu dikenang.
Sebuah foto mungkin hanya mengabadikan momen, tetapi cerita di baliknya menyimpan proses yang akan selalu dikenang.
"Setiap perjalanan besar selalu diawali oleh satu langkah kecil. Bagi saya, langkah kecil itu adalah keberanian untuk mendaftar LAKMUD."

Memasuki semester dua perkuliahan, saya mulai tertarik dengan Latihan Kader Muda (LAKMUD). Ketertarikan itu berawal dari hal yang sangat sederhana. Saya melihat beberapa teman telah mengikuti LAKMUD, dan dalam hati saya muncul rasa penasaran. Saya ingin merasakan bagaimana proses kaderisasi itu berlangsung. Saat itu, saya belum memahami makna menjadi seorang kader, apalagi amanah besar yang akan diemban setelah menyelesaikan jenjang tersebut. Yang saya tahu hanyalah satu hal, saya ingin ikut LAKMUD.

Keinginan itu membuat saya mulai mencari informasi kepada teman-teman di kampus. Kesempatan pertama datang ketika saya mengetahui bahwa PAC Ngoro akan menyelenggarakan LAKMUD. Sayangnya, saya belum berjodoh. Jadwal screening berbenturan dengan kegiatan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP), sedangkan pelaksanaan LAKMUD bertabrakan dengan agenda organisasi di tingkat ranting desa. Saat itu saya cukup kecewa, tetapi saya percaya bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri.

Tidak lama kemudian, saya mendapat kabar bahwa PK IPNU IPPNU UNWAHA akan mengadakan LAKMUD. Rasanya campur aduk antara senang dan takut. Ini adalah kesempatan yang benar-benar saya tunggu, tetapi saya juga bertanya-tanya, "Apakah saya siap?" Setelah mempertimbangkannya beberapa hari, akhirnya pada 13 Juni 2026 saya memutuskan untuk mendaftar.

Menjelang screening, rasa takut semakin besar. Saya datang seorang diri tanpa mengenal satu pun peserta lain. Ada banyak keraguan dalam diri saya. Namun, saya tetap memilih datang karena saya tidak ingin kalah oleh rasa takut.

Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos screening.

Di titik itulah cara pandang saya mulai berubah. Saya baru memahami bahwa LAKMUD bukan sekadar pelatihan atau kegiatan beberapa hari. LAKMUD adalah proses pembentukan kader yang nantinya akan membawa amanah untuk organisasi.

"Tujuan saya mengikuti LAKMUD berubah. Saya tidak lagi sekadar ingin merasakan keseruannya, tetapi ingin belajar menjadi kader yang mampu menjaga amanah dan memberikan kontribusi nyata."

Keraguan itu memang masih ada. Saya sempat bertanya kepada diri sendiri, "Apakah saya mampu menjalankan amanah sebesar itu?" Namun, saya memilih menjadikan kepercayaan dari panitia dan tim screening sebagai motivasi. Jika mereka percaya bahwa saya layak melanjutkan proses ini, maka saya pun harus belajar untuk percaya pada diri sendiri.

Perjalanan menuju hari pelaksanaan ternyata tidak kalah menantang. Setelah mengikuti Sekolah Pra-LAKMUD (SPL), saya harus menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan. Pada waktu yang sama, saya juga memiliki tanggung jawab sebagai sekretaris panitia Konferancab PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Kudu sehingga harus menyusun LPJ kegiatan. Alhamdulillah, dengan pembagian tugas yang baik bersama rekanita sekretaris, seluruh tanggung jawab tersebut dapat saya selesaikan tepat waktu sebelum Technical Meeting berlangsung.

Technical Meeting menjadi awal dari perkenalan saya dengan peserta lain. Kami mulai saling mengenal, dibagi ke dalam kelompok, serta mendapatkan penjelasan mengenai seluruh rangkaian kegiatan. Rasa canggung yang sebelumnya saya rasakan perlahan menghilang.

Hingga akhirnya, pada 6 Juli 2026, perjalanan yang selama ini saya tunggu benar-benar dimulai.

Selama empat hari mengikuti LAKMUD, saya belajar banyak hal. Tidak hanya melalui materi-materi yang membuka cara berpikir kami, tetapi juga melalui berbagai diskusi, Focus Group Discussion (FGD), praktik, dan dinamika kelompok yang menuntut kami untuk berpikir lebih kritis. Tentu ada rasa lelah, tetapi lelah itu tidak pernah terasa sebagai beban. Justru setiap tantangan menjadi bagian dari proses yang membuat saya berkembang.

Namun, bagi saya, hal yang paling berharga bukan hanya materi yang disampaikan.

"Saya datang tanpa mengenal siapa pun. Saya pulang dengan membawa keluarga baru."

Kalimat itu mungkin menjadi gambaran paling tepat untuk menggambarkan pengalaman saya selama LAKMUD. Saya merasakan suasana kekeluargaan yang begitu hangat. Kami belajar bersama, bercanda bersama, saling menguatkan, bahkan tumbuh menjadi satu kesatuan meskipun sebelumnya berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa kaderisasi bukan hanya membentuk kemampuan intelektual, tetapi juga membangun rasa persaudaraan.

Momen yang paling membekas adalah prosesi baiat.

Banyak orang mungkin mengira air mata saya saat itu muncul karena takut menerima amanah sebagai kader. Nyatanya bukan itu alasannya.

"Tangis itu hadir karena saya sadar bahwa saya berada di titik ini bukan karena paksaan siapa pun, melainkan karena pilihan yang saya perjuangkan sendiri."

Saya teringat bagaimana dahulu saya begitu takut memasuki lingkungan baru tanpa mengenal siapa pun. Namun, di tempat itulah saya berhasil melawan ketakutan saya sendiri. Saya datang sebagai seseorang yang penuh keraguan, tetapi pulang dengan keyakinan yang jauh lebih besar.

Ada satu pesan dari instruktur yang hingga kini terus saya ingat. Beliau menyampaikan bahwa seorang kader tidak cukup hanya memiliki kemampuan atau keterampilan. Ideologi juga harus dipahami, dijaga, dan terus diperdalam. Sebab, keterampilan tanpa ideologi akan kehilangan arah. Pesan sederhana itu menjadi pengingat bagi saya untuk terus belajar, berpikir kritis, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai organisasi.

Kini saya memahami bahwa amanah bukanlah beban yang harus dihindari.

"Amanah adalah bentuk kepercayaan. Dan setiap kepercayaan harus dijaga dengan sebaik-baiknya."

Hari penutupan menjadi salah satu momen yang paling mengharukan. Rasanya berat untuk mengakhiri empat hari yang penuh cerita, pembelajaran, dan kebersamaan. Namun, saya sadar bahwa berakhirnya LAKMUD bukan berarti perjalanan ini selesai.

Justru dari sinilah perjalanan itu dimulai.

Hari ini saya tidak lagi memandang diri saya hanya sebagai seorang anggota. Saya ingin terus berproses menjadi kader yang mampu menjaga nilai-nilai organisasi, berani berpikir kritis, serta memberikan kontribusi terbaik bagi IPNU-IPPNU dan masyarakat.
"LAKMUD telah selesai, tetapi perjalanan sebagai kader baru saja dimulai."

Terima kasih, LAKMUD PK IPNU IPPNU UNWAHA 2026.

Terima kasih telah menjadi ruang bagi saya untuk bertumbuh, belajar, dan menemukan versi diri yang lebih berani. Semoga setiap ilmu, pengalaman, dan nilai yang saya peroleh tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi menjadi bekal untuk terus mengabdi dan memberi manfaat di mana pun saya berada.