MENGAPA KEBANYAKAN PENGGUNA PLATFORM MEDIA SOSIAL TIKTOK ITU TERKESAN BAHKAN TERGOLONG “BODOH” BAHKAN KERAS KEPALA SAAT MEREKA DIKRITIK?
29 Jan 2026
Ahsan Syarif Ath Thory
Karya Tulis
Akhir-akhir ini, banyak istilah baru yang sering kita dengar, terutama yang berhubungan dengan salah satu platform media sosial, yakni TikTok. Salah satu istilah yang sering didengar adalah “standart TikTok”. Dilihat dari respon banyak orang, menilai bahwa “standart TikTok” berisikan hal-hal aneh bahkan bisa dibilang bodoh oleh banyak orang. Bukan hanya fenomena “standart TikTok” saja yang disebut aneh, bahkan banyak pendapat-pendapat yang tersebar dalam platform tersebut dikatakan aneh dan tak berdasar, tetapi masih banyak bahkan bisa dikatakan rata-rata orang mempercayai hal tersebut. Lantas mengapa demikian?
Sekilas terasa kalau saya itu menyalahkan platform tersebut yang mengakibatkan
Bagian pertama: mengenal perilaku pengguna platform media sosial TikTok
Terlihat kalua kebanyakan pengguna TikTok menggunakan platform tersebut sebagai tempat “hiburan”, sehingga ketika ada berita penting atau konten edukasi yang lewat akan mereka hiraukan, bahkan ada yang menanggapinya dengan tidak serius. Mereka menganggapi konten-konten berita penting atau edukasi dengan tanggapan yang sama sekali tidak berhubungan dengan isi dalam video yang ditampilkan, bahkan banyak yang mengatakan kalau mereka menanggapi konten edukasi dengan cacat logika. Bahkan ada satu berita bahwa seorang ojol menguras rekening milik seseorang, tetapi para pengguna platform media sosial TikTok justru mendukung ojol tersebut dengan dalih “dia kan menemukan dompet tadi, bukan korupsi kan? Katanya siapa cepat dia dapat”. Secara logika itu merupakan hal yang salah dan menyalahi aturan, tapi mengapa para pengguna platform media tersebut masih menanggapi dengan cara yang tidak masuk akal sama sekali?
Bagian kedua: penyebab utama
Sejak awal peluncuran aplikasi TikTok, platform tersebut menjanjikan untuk menyajikan video-video pendek yang akan dimunculkan dalam aplikasi tersebut. Lantas apa hubungannya dengan penyebab utama pengguna platform media sosial TikTok cenderung terasa bodoh? Pertama kita akan membahas tentang dopamin, merupakan zat kimia yang dihasilkan otak untuk memunculkan rasa puas, bahagia, dan mendorong tubuh manusia untuk mengulangi hal yang membuat mereka senang. Terus apa hubungannya dengan durasi singkat dalam video TikTok?
TikTok dan video pendek lain memicu pelepasan dopamin cepat di otak lewat sistem reward yang mirip mesin judi, lalu melatih otak untuk terus mengejar rangsangan singkat dan instan. Kalau pola ini diulang terus, terjadi perubahan pada sirkuit reward dan jaringan kontrol kognitif yang bikin orang makin sulit menikmati aktivitas yang lambat, panjang, dan butuh fokus. Dari dopamin yang dihasilkan otak, manusia akan terus merasa ketagihan atas hal “seru” yang diberikan oleh TikTok (berupa video pendek dan lucu) sehingga mereka tidak sabar untuk melihat video-video pendek yang lain.
Akibat dari penyajian video pendek tadi, akhirnya menghasilkan rasa kurang nyaman saat mendengar dan melihat video-video kritis dan panjang. Karena mereka sudah menjadi tidak sabaran dan langsung melewati video yang mengandung topik kritis dan memiliki durasi yang panjang. Lalu, apa hubungannya dengan para pengguna platform TikTok yang keras kepala saat dikritik atau dikoreksi?
Bagian ketiga: attention span
Mungkin terlihat kalau membahas attention span (lama waktu manusia bisa fokus) dengan alasan mengapa pengguna platform TikTok itu keras kepala saat dikritik. Tetapi alasan sebenarnya adalah bukan fokus dalam penjelasan video yang dilihat, melainkan fokus dalam menggali lebih dalam mengenai apakah informasi yang diberikan itu valid atau tidak, cek ulang sumber, memahami konteks video, dll.
Penurunan attention span juga merupakan akibat dari hasil otak mengeluarkan dopamin dari video-video singkat yang disajikan TikTok. Hasil dari semua kejadian yang berturut-turut tadi dan dilakukan secara berulang-ulang hingga menghasilkan fenomena “scroll more, think less” (geser lebih banyak, berfikir lebih sedikit). Fenomena ini membuat mereka menerima apa yang membuat mereka puas tanpa menggali informasi lebih dalam. Kebiasaan ini membuat cara berpikir analitik menjadi cara berpikir cepat tanpa memikirkan apa yang terjadi, fenomena ini terjadi bukan hanya akibat menonton isi konten yang ada dalam platform TikTok, tetapi efek dari banyak orang yang menonton video pendek, membuat setiap individu kehilangan daya pikir analitik, dan bertemu dengan orang-orang yang mengalami fenomena sama yaitu mengiyakan informasi singkat tak berdasar yang mereka terima dan menyebarkannya pada orang-orang yang sudah tergerus daya fokus dan daya pikirnya. Lalu mengapa banyak sekali orang yang terjerumus dalam lingkaran setan “kebodohan” TikTok ini? Sebenarnya ada satu hal lain yang krusial selain penyebab utama lingkaran setan “kebodohan” TikTok ini, yaitu gerbang kebodohan tersebut yang merupakan “Install Aplikasi TikTok”.
Bagian keempat: pintu gerbang menuju kebodohan
Saat awal kita menambahkan aplikasi TikTok pada ponsel kita kemudian membukanya, apa yang kita lihat? Tentu video-video yang mengandung kebodohan, ketidak jelasan, bahkan pornografi ringan yang pertama kita lihat saat pertamakali kita membuka aplikasi tersebut. Video-video tersebutlah yang menjadi gerbang “kebodohan” penggunanya saat memakai aplikasi tersebut dari awal hingga kini. Gerbang “kebodohan” lain yaitu ketenaran dan popularitas yang tinggi. Manusia akan melakukan apa saja untuk membuat mereka populer, seperti halnya dalam platform TikTok yaitu berpura-pura bodoh agar mendapatkan kepopularitasan. Mungkin tidak akan terasa efek dari pura-pura yang dilakukan saat awal mereka melakukan itu, tetapi seiring waktu sugesti mereka akan menyebabkan mereka berfikir bahwa popularitas itu nomor satu.
Bagian kelima: popularitas di atas segalanya
Apa yang tidak kita dapatkan ketika kita populer? Kekayaan? Tentu dapat, privillege di mana-mana? Oh jelas sekali, rasa aman dan nyaman? Jangan tanya lagi, orang mempercayai kedunguan kita? Manusia mana yang mau mempercayai pendapat orang terkenal yang tak berdasar kalau mereka tidak bodoh?
Popularitas di atas segalanya, atau bisa juga dilihat oleh orang populer di atas segalanya. Atensi instan merupakan salah satu cara memicu penghasilan dopamin dalam otak manusia, segala hal memuaskan yang didapatkan dengan cara instan merupakan penghasil utama dopamin tersebut. Mereka mencari hal menarik yang mereka anggap untuk dijadikan sebagai acuan utama mereka. Hal menarik apa yang mereka ambil? Ya betul, orang-orang populer yang mereka anggap menarik. Mereka akan menganggap orang dengan jumlah pengikut terbanyak dengan sebutan orang pintar, pasti mereka akan mengatakan “dia kan populer, uangnya pasti banyak masa nggak mampu membiayai pendidikannya sendiri?” jelas mereka tidak akan menghiraukan pendidikannya, karena mendapatkan kekayaan dari hal “bodoh” yang mereka lakukan. Mengapa mengincar pendidikan jika kita mampu mendapatkan harta dari melakukan hal “bodoh” jika itu lebih mudah? Lantas apa yang perlu kita lakukan untuk mengatasi semua fenomena tersebut?
Bagian ketujuh: jalan keluar
Saya disini tidak melarang menggunakan platform TikTok, justru manfaatnya juga banyak. Semisal kita ingin mencari tahu tentang suatu penjelasan pada fenomena yang sedang terjadi disekitar kita terkadang terasa terlalu berbelit sebelum menuju pada fokus utama kasus tersebut. Dengan suguhan video durasi pendek yang diberikan oleh platform tersebut, kita dapat langsung mengakses pada inti masalah fenomena yang kita hadapi. Yang perlu kita hilangkan adalah instant dopamin yang dihasilkan oleh video-video pendek tersebut, dengan cara kita membaca, menulis, latihan nafas untuk menenangkan diri, atau menggunakan platform tersebut 20-30 menit setelah aktivitas berat. Karena manusia butuh hiburan untuk menenangkan pikiran mereka, dan merelaksasi tubuh mereka setelah kegiatan berat yang mereka lakukan, dan dopamin instan tersebutlah yang dapat menenangkan pikiran manusia dengan cepat. Tetapi dengan catatan, jangan sampai overdosis. Katakanlah paling lama satu jam kita menggunakan platform tersebut, karena jika kita terlalu lama mengonsumsi “suguhan” tersebut, kemampuan durasi fokus kita akan terus berkurang, sehingga akan sulit untuk fokus dalam menghadapi pelajaran, pemaparan materi, pekerjaan, hingga keluarga.
Bagian kedelapan: penutup
Membahagiakan diri sendiri itu perlu, bahkan wajib. Tetapi jika kita terlalu memanjakan tubuh kita agar bahagia tersebut, kita akan mudah menyerah jika menghadapi suatu kesulitan. Ibarat batu. Kebahagiaan ekstra itu seperti pasir, sedangkan keluarga, pekerjaan, dan rumah adalah batu yang besar. Jika pasir halus terlebih dahulu yang kita isi pada suatu wadah dan menjadi fondasi, maka batu besar yang dimasukkan terakhir akan runtuh bersama fondasi pasir tersebut. Sedangkan sebaliknya, apa bila kita memasukkan batu besar sebagai fondasi dan pasir sebagai pelengkap. Itu akan mengisi kekosongan-kekosongan dalam rongga batu tersebut dan membuatnya menjadi sebuah struktur yang lebih kuat.
Sekilas terasa kalau saya itu menyalahkan platform tersebut yang mengakibatkan
Bagian pertama: mengenal perilaku pengguna platform media sosial TikTok
Terlihat kalua kebanyakan pengguna TikTok menggunakan platform tersebut sebagai tempat “hiburan”, sehingga ketika ada berita penting atau konten edukasi yang lewat akan mereka hiraukan, bahkan ada yang menanggapinya dengan tidak serius. Mereka menganggapi konten-konten berita penting atau edukasi dengan tanggapan yang sama sekali tidak berhubungan dengan isi dalam video yang ditampilkan, bahkan banyak yang mengatakan kalau mereka menanggapi konten edukasi dengan cacat logika. Bahkan ada satu berita bahwa seorang ojol menguras rekening milik seseorang, tetapi para pengguna platform media sosial TikTok justru mendukung ojol tersebut dengan dalih “dia kan menemukan dompet tadi, bukan korupsi kan? Katanya siapa cepat dia dapat”. Secara logika itu merupakan hal yang salah dan menyalahi aturan, tapi mengapa para pengguna platform media tersebut masih menanggapi dengan cara yang tidak masuk akal sama sekali?
Bagian kedua: penyebab utama
Sejak awal peluncuran aplikasi TikTok, platform tersebut menjanjikan untuk menyajikan video-video pendek yang akan dimunculkan dalam aplikasi tersebut. Lantas apa hubungannya dengan penyebab utama pengguna platform media sosial TikTok cenderung terasa bodoh? Pertama kita akan membahas tentang dopamin, merupakan zat kimia yang dihasilkan otak untuk memunculkan rasa puas, bahagia, dan mendorong tubuh manusia untuk mengulangi hal yang membuat mereka senang. Terus apa hubungannya dengan durasi singkat dalam video TikTok?
TikTok dan video pendek lain memicu pelepasan dopamin cepat di otak lewat sistem reward yang mirip mesin judi, lalu melatih otak untuk terus mengejar rangsangan singkat dan instan. Kalau pola ini diulang terus, terjadi perubahan pada sirkuit reward dan jaringan kontrol kognitif yang bikin orang makin sulit menikmati aktivitas yang lambat, panjang, dan butuh fokus. Dari dopamin yang dihasilkan otak, manusia akan terus merasa ketagihan atas hal “seru” yang diberikan oleh TikTok (berupa video pendek dan lucu) sehingga mereka tidak sabar untuk melihat video-video pendek yang lain.
Akibat dari penyajian video pendek tadi, akhirnya menghasilkan rasa kurang nyaman saat mendengar dan melihat video-video kritis dan panjang. Karena mereka sudah menjadi tidak sabaran dan langsung melewati video yang mengandung topik kritis dan memiliki durasi yang panjang. Lalu, apa hubungannya dengan para pengguna platform TikTok yang keras kepala saat dikritik atau dikoreksi?
Bagian ketiga: attention span
Mungkin terlihat kalau membahas attention span (lama waktu manusia bisa fokus) dengan alasan mengapa pengguna platform TikTok itu keras kepala saat dikritik. Tetapi alasan sebenarnya adalah bukan fokus dalam penjelasan video yang dilihat, melainkan fokus dalam menggali lebih dalam mengenai apakah informasi yang diberikan itu valid atau tidak, cek ulang sumber, memahami konteks video, dll.
Penurunan attention span juga merupakan akibat dari hasil otak mengeluarkan dopamin dari video-video singkat yang disajikan TikTok. Hasil dari semua kejadian yang berturut-turut tadi dan dilakukan secara berulang-ulang hingga menghasilkan fenomena “scroll more, think less” (geser lebih banyak, berfikir lebih sedikit). Fenomena ini membuat mereka menerima apa yang membuat mereka puas tanpa menggali informasi lebih dalam. Kebiasaan ini membuat cara berpikir analitik menjadi cara berpikir cepat tanpa memikirkan apa yang terjadi, fenomena ini terjadi bukan hanya akibat menonton isi konten yang ada dalam platform TikTok, tetapi efek dari banyak orang yang menonton video pendek, membuat setiap individu kehilangan daya pikir analitik, dan bertemu dengan orang-orang yang mengalami fenomena sama yaitu mengiyakan informasi singkat tak berdasar yang mereka terima dan menyebarkannya pada orang-orang yang sudah tergerus daya fokus dan daya pikirnya. Lalu mengapa banyak sekali orang yang terjerumus dalam lingkaran setan “kebodohan” TikTok ini? Sebenarnya ada satu hal lain yang krusial selain penyebab utama lingkaran setan “kebodohan” TikTok ini, yaitu gerbang kebodohan tersebut yang merupakan “Install Aplikasi TikTok”.
Bagian keempat: pintu gerbang menuju kebodohan
Saat awal kita menambahkan aplikasi TikTok pada ponsel kita kemudian membukanya, apa yang kita lihat? Tentu video-video yang mengandung kebodohan, ketidak jelasan, bahkan pornografi ringan yang pertama kita lihat saat pertamakali kita membuka aplikasi tersebut. Video-video tersebutlah yang menjadi gerbang “kebodohan” penggunanya saat memakai aplikasi tersebut dari awal hingga kini. Gerbang “kebodohan” lain yaitu ketenaran dan popularitas yang tinggi. Manusia akan melakukan apa saja untuk membuat mereka populer, seperti halnya dalam platform TikTok yaitu berpura-pura bodoh agar mendapatkan kepopularitasan. Mungkin tidak akan terasa efek dari pura-pura yang dilakukan saat awal mereka melakukan itu, tetapi seiring waktu sugesti mereka akan menyebabkan mereka berfikir bahwa popularitas itu nomor satu.
Bagian kelima: popularitas di atas segalanya
Apa yang tidak kita dapatkan ketika kita populer? Kekayaan? Tentu dapat, privillege di mana-mana? Oh jelas sekali, rasa aman dan nyaman? Jangan tanya lagi, orang mempercayai kedunguan kita? Manusia mana yang mau mempercayai pendapat orang terkenal yang tak berdasar kalau mereka tidak bodoh?
Popularitas di atas segalanya, atau bisa juga dilihat oleh orang populer di atas segalanya. Atensi instan merupakan salah satu cara memicu penghasilan dopamin dalam otak manusia, segala hal memuaskan yang didapatkan dengan cara instan merupakan penghasil utama dopamin tersebut. Mereka mencari hal menarik yang mereka anggap untuk dijadikan sebagai acuan utama mereka. Hal menarik apa yang mereka ambil? Ya betul, orang-orang populer yang mereka anggap menarik. Mereka akan menganggap orang dengan jumlah pengikut terbanyak dengan sebutan orang pintar, pasti mereka akan mengatakan “dia kan populer, uangnya pasti banyak masa nggak mampu membiayai pendidikannya sendiri?” jelas mereka tidak akan menghiraukan pendidikannya, karena mendapatkan kekayaan dari hal “bodoh” yang mereka lakukan. Mengapa mengincar pendidikan jika kita mampu mendapatkan harta dari melakukan hal “bodoh” jika itu lebih mudah? Lantas apa yang perlu kita lakukan untuk mengatasi semua fenomena tersebut?
Bagian ketujuh: jalan keluar
Saya disini tidak melarang menggunakan platform TikTok, justru manfaatnya juga banyak. Semisal kita ingin mencari tahu tentang suatu penjelasan pada fenomena yang sedang terjadi disekitar kita terkadang terasa terlalu berbelit sebelum menuju pada fokus utama kasus tersebut. Dengan suguhan video durasi pendek yang diberikan oleh platform tersebut, kita dapat langsung mengakses pada inti masalah fenomena yang kita hadapi. Yang perlu kita hilangkan adalah instant dopamin yang dihasilkan oleh video-video pendek tersebut, dengan cara kita membaca, menulis, latihan nafas untuk menenangkan diri, atau menggunakan platform tersebut 20-30 menit setelah aktivitas berat. Karena manusia butuh hiburan untuk menenangkan pikiran mereka, dan merelaksasi tubuh mereka setelah kegiatan berat yang mereka lakukan, dan dopamin instan tersebutlah yang dapat menenangkan pikiran manusia dengan cepat. Tetapi dengan catatan, jangan sampai overdosis. Katakanlah paling lama satu jam kita menggunakan platform tersebut, karena jika kita terlalu lama mengonsumsi “suguhan” tersebut, kemampuan durasi fokus kita akan terus berkurang, sehingga akan sulit untuk fokus dalam menghadapi pelajaran, pemaparan materi, pekerjaan, hingga keluarga.
Bagian kedelapan: penutup
Membahagiakan diri sendiri itu perlu, bahkan wajib. Tetapi jika kita terlalu memanjakan tubuh kita agar bahagia tersebut, kita akan mudah menyerah jika menghadapi suatu kesulitan. Ibarat batu. Kebahagiaan ekstra itu seperti pasir, sedangkan keluarga, pekerjaan, dan rumah adalah batu yang besar. Jika pasir halus terlebih dahulu yang kita isi pada suatu wadah dan menjadi fondasi, maka batu besar yang dimasukkan terakhir akan runtuh bersama fondasi pasir tersebut. Sedangkan sebaliknya, apa bila kita memasukkan batu besar sebagai fondasi dan pasir sebagai pelengkap. Itu akan mengisi kekosongan-kekosongan dalam rongga batu tersebut dan membuatnya menjadi sebuah struktur yang lebih kuat.