Cerita Pendek "KETIKA SALJU MENYIMPAN DOA"
22 Dec 2025
Akmal Hilmi
Karya Tulis
Beberapa hari menjelang Natal, Hisyam menutup laptopnya lebih awal dari biasanya. Malam terasa lebih sunyi, seolah memberi ruang pada satu nama yang sejak lama hanya ia simpan dalam ingatan. Setelah ragu sejenak, ia mengambil ponsel dan menekan nomor yang masih dihafalnya.
Di seberang sana, Helena sedang merapikan berkas-berkas kantor ketika panggilan itu masuk. Nama Hisyam muncul di layar, membuat jemarinya terhenti. Ia menarik napas sebelum menjawab.
“Halo?”
“Helena,” suara itu terdengar tenang, seperti dulu. “Aku berencana ke Rusia. Beberapa hari lagi.”
Helena terdiam. Ia tidak menyangka, namun senyum kecil muncul tanpa ia sadari. “Ke sini?” tanyanya, nada suaranya mengandung kaget sekaligus senang.
“Aku ingin bersilaturahmi,” jawab Hisham singkat. “Sekaligus menghormati hari rayamu.”
Tidak ada kata yang berlebihan dalam percakapan itu, tetapi keduanya sama-sama memahami maknanya. Di akhir telepon, Helena mengatakan akan menjemput sahabatnya itu di bandara.
Salju menyambut langkah Hisyam ketika ia tiba di Rusia. Udara dingin memaksa orang-orang mempercepat langkah, namun ia berjalan dengan ritme yang tetap. Dari kejauhan, Helena berdiri dengan mantel panjang dan sikap yang rapi. Wibawanya sebagai staf kedutaan tampak jelas, meski matanya menyimpan kehangatan yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Mereka berjabat tangan. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata-kata panjang. Hanya pertemuan dua orang dewasa yang saling menghormati jarak.
Di perjalanan,H isyam menyerahkan sebuah buku. “Ini karyaku,” katanya. “Sebagai Hadiah Natal.”
Helena menerimanya dengan hati-hati. Buku itu terasa lebih berat dari sekadar hadiah. Ia menatap sampulnya sejenak, lalu mengangguk. “Terima kasih.”
Beberapa hari bersama berlalu tenang. Hingga suatu malam, Helena mengajak Hisyam makan bersama lingkaran pergaulannya. Meja makan tertata rapi dengan hidangan khas Natal. Ia memastikan semuanya tidak melanggar apa pun yang diyakini sahabatnya. Ia tidak menjelaskan alasannya. Ia hanya merasa itu perlu.
Awalnya percakapan mengalir biasa. Namun perlahan, arah pembicaraan berubah.
“Jadi kau motivator?” tanya seseorang dengan senyum tipis.
“Masih ada yang memilih hidup setenang itu,” sahut yang lain.
“Di dunia sekeras ini, apa tidak terlalu idealis?”
Hisyam mendengarkan. Ia tidak tersenyum, tidak pula tersinggung. Ada hal-hal yang tidak perlu dijawab dengan kata-kata.
Helena melihat semuanya. Ia membiarkan beberapa saat berlalu, lalu angkat bicara dengan suara yang tenang.
“Tidak semua orang harus berjalan di jalan yang sama,” katanya. “Dan ketenangan bukan tanda ketertinggalan.”
Keheningan menyusul. Tidak ada yang membantah. Hisham menatap piringnya, lalu sekilas ke arah Helena. Ia memahami keberpihakan itu tanpa perlu ucapan terima kasih.
Malam tahun baru datang tanpa perayaan. Mereka berjalan di bawah salju, langkah mereka sejajar. Kota terasa lebih jujur dalam diam.
“Kadang...,” kata Helena pelan, “ketenangan justru lahir dari keberanian memilih.”
Hisyam mengangguk. Ia tidak tahu bahwa kalimat itu lahir dari pergulatan panjang yang tidak pernah Helena ceritakan—doa-doa yang berubah arah, keyakinan yang tumbuh tanpa suara, dan keputusan yang ia simpan rapat.
Hari kepulangan tiba. Di bandara, Helena mengantar Hisham hingga batas keberangkatan. Ia menyodorkan sebuah buku kecil bersampul sederhana.
“Tolong doakan aku,” ucapnya.
Hisham membacanya sekilas. Dadanya menghangat sekaligus bergetar. Ia menatap sahabatnya, ingin bertanya lebih banyak, namun menahan diri. Tidak semua jawaban harus datang saat itu.
Ketika Hisham melangkah pergi, Helena tetap berdiri di tempatnya. Salju turun pelan di luar jendela. Ia tahu, perpisahan ini bukan akhir. Hanya jeda bagi dua perjalanan yang sedang menuju arah yang sama, meski belum sejajar sepenuhnya.
Salju kembali turun, menutupi jejak langkah mereka.
Ia tersenyum pelan.
Beberapa perjalanan memang harus ditempuh sendiri, sebelum akhirnya dipertemukan kembali.
Di seberang sana, Helena sedang merapikan berkas-berkas kantor ketika panggilan itu masuk. Nama Hisyam muncul di layar, membuat jemarinya terhenti. Ia menarik napas sebelum menjawab.
“Halo?”
“Helena,” suara itu terdengar tenang, seperti dulu. “Aku berencana ke Rusia. Beberapa hari lagi.”
Helena terdiam. Ia tidak menyangka, namun senyum kecil muncul tanpa ia sadari. “Ke sini?” tanyanya, nada suaranya mengandung kaget sekaligus senang.
“Aku ingin bersilaturahmi,” jawab Hisham singkat. “Sekaligus menghormati hari rayamu.”
Tidak ada kata yang berlebihan dalam percakapan itu, tetapi keduanya sama-sama memahami maknanya. Di akhir telepon, Helena mengatakan akan menjemput sahabatnya itu di bandara.
Salju menyambut langkah Hisyam ketika ia tiba di Rusia. Udara dingin memaksa orang-orang mempercepat langkah, namun ia berjalan dengan ritme yang tetap. Dari kejauhan, Helena berdiri dengan mantel panjang dan sikap yang rapi. Wibawanya sebagai staf kedutaan tampak jelas, meski matanya menyimpan kehangatan yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Mereka berjabat tangan. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata-kata panjang. Hanya pertemuan dua orang dewasa yang saling menghormati jarak.
Di perjalanan,H isyam menyerahkan sebuah buku. “Ini karyaku,” katanya. “Sebagai Hadiah Natal.”
Helena menerimanya dengan hati-hati. Buku itu terasa lebih berat dari sekadar hadiah. Ia menatap sampulnya sejenak, lalu mengangguk. “Terima kasih.”
Beberapa hari bersama berlalu tenang. Hingga suatu malam, Helena mengajak Hisyam makan bersama lingkaran pergaulannya. Meja makan tertata rapi dengan hidangan khas Natal. Ia memastikan semuanya tidak melanggar apa pun yang diyakini sahabatnya. Ia tidak menjelaskan alasannya. Ia hanya merasa itu perlu.
Awalnya percakapan mengalir biasa. Namun perlahan, arah pembicaraan berubah.
“Jadi kau motivator?” tanya seseorang dengan senyum tipis.
“Masih ada yang memilih hidup setenang itu,” sahut yang lain.
“Di dunia sekeras ini, apa tidak terlalu idealis?”
Hisyam mendengarkan. Ia tidak tersenyum, tidak pula tersinggung. Ada hal-hal yang tidak perlu dijawab dengan kata-kata.
Helena melihat semuanya. Ia membiarkan beberapa saat berlalu, lalu angkat bicara dengan suara yang tenang.
“Tidak semua orang harus berjalan di jalan yang sama,” katanya. “Dan ketenangan bukan tanda ketertinggalan.”
Keheningan menyusul. Tidak ada yang membantah. Hisham menatap piringnya, lalu sekilas ke arah Helena. Ia memahami keberpihakan itu tanpa perlu ucapan terima kasih.
Malam tahun baru datang tanpa perayaan. Mereka berjalan di bawah salju, langkah mereka sejajar. Kota terasa lebih jujur dalam diam.
“Kadang...,” kata Helena pelan, “ketenangan justru lahir dari keberanian memilih.”
Hisyam mengangguk. Ia tidak tahu bahwa kalimat itu lahir dari pergulatan panjang yang tidak pernah Helena ceritakan—doa-doa yang berubah arah, keyakinan yang tumbuh tanpa suara, dan keputusan yang ia simpan rapat.
Hari kepulangan tiba. Di bandara, Helena mengantar Hisham hingga batas keberangkatan. Ia menyodorkan sebuah buku kecil bersampul sederhana.
“Tolong doakan aku,” ucapnya.
Hisham membacanya sekilas. Dadanya menghangat sekaligus bergetar. Ia menatap sahabatnya, ingin bertanya lebih banyak, namun menahan diri. Tidak semua jawaban harus datang saat itu.
Ketika Hisham melangkah pergi, Helena tetap berdiri di tempatnya. Salju turun pelan di luar jendela. Ia tahu, perpisahan ini bukan akhir. Hanya jeda bagi dua perjalanan yang sedang menuju arah yang sama, meski belum sejajar sepenuhnya.
Salju kembali turun, menutupi jejak langkah mereka.
Ia tersenyum pelan.
Beberapa perjalanan memang harus ditempuh sendiri, sebelum akhirnya dipertemukan kembali.